Menjelmakan Sabit di Bibirmu
Meski dalam keheningan pun, nyatanya kedua mata kita masih saja saling memerhatikan satu sama lainnya.
Usah kau pikirkan mengenai pilihan, karena jika hatimu ada dalam keragu-raguan, hanyalah kekhawatiran yang akan selalu kau pikirkan. Ragu bukanlah hal yang pantas kita biarkan larut terlalu lama. Kala sekali meragu, maka sedikit demi sedikit rapuhlah ia: percaya. Karena sekali meragu, hancurlah ia: percaya. Dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Pada tubuh ada rasa, yang jika dibiarkan begitu saja akan menjadi hampa. Pada hati ada cinta, yang jika dibiarkan begitu saja akan mati tanpa kita tahu kenapa.
Damai hadir ketika ingatan-ingatan kecil terasa penuh dalam benak dan kita tersenyum bahagia untuk itu.
Usah kau khawatirkan segala sesuatunya berlebih, karena prasangka yang kini mengendap dalam dada tentunya tak akan membawa kita beranjak kemana-mana. Pada benak ada percaya, yang jika dibiarkan begitu saja akan menjadi cabik. Pada kalbu ada doa, yang jika dibiarkan begitu saja akan menjadi tidak bermakna lagi keberadaannya.
Ada lansekap rindu yang menjelma dalam bayangan yang membentuk namamu di semesta raya. Percayakah kamu ketika kukatakan aku merindukanmu?
Usah kau pikirkan mengenai ucap angin yang menyuarakan kegundahan dalam hatimu, karena ada lebih banyak hal yang selalu patut kita syukuri kehadirannya. Gundahmu tak kan membuatmu menjadi lebih tenang menghadapi jejak-jejak masa yang ada di hadapmu. Pada semesta ada hangat, yang jika kita biarkan begitu saja akan menjadi dingin dan membuat kita sendiri dalam sunyi. Pada hangat ada bahagia, yang jika kita biarkan begitu saja tentunya akan menghilang perlahan terkalahkan bimbangmu.
Melangkahlah ke luar, dan biarkan matamu bercumbu dengan alam di sekitarmu, sapu dengan kedua matamu keadaan lingkungan sekitarmu. Padanya kan kau lahirkan lagi limpahan syukur atas apa yang ada, sehingga kita tahu betul bahwa semua yang ada di dunia ini begitu indah. Ajaib dan menakjubkan.
Jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan, ada pertanda-pertanda keberadaan Tuhan yang mencintamu di setiap hal yang kau lihat di luar sana. Usah kau takutkan rencana Tuhan, karena tak pernah Ia tunjukkan dan berikan padamu rencana yang tak Ia siapkan, kecuali untuk kebaikan dan kebahagiaanmu.
Untukmu, Banyu, yang mulia. Apakah senyummu tak lagi boleh kucuri dan kusimpan sendiri dalam ruang di hatiku? Senyummu sungguh masih kunanti hadirnya. Jangan bersedih lagi. Hapus embun-embun seperti kristal itu dari kedua matamu. Kamu tak lagi cantik bila sedang seperti itu.
|
–sometimes, words are the best drug that we have, when silence and grief are within our heart, I am here, missing you, a lot
Mahakarya Abadi
Aku lantangkan rindu pada ruang udara, karena hanya itu ruang dimana kita satu, menghela nafas yang sama. Berharap udara akan menggaungkannya, membuatmu mendengarnya meski kau tak ada di pelupuk mata.
Aku lipatkan lembaran kertas-kertas putih yang ada di depan mata, kubuat itu menjadi burung-burung maya, agar setiap rasa yang tercurah dalam dada, bisa menyatu dalam satu bentuk yang sama-sama kita suka. Berharap Tuhan menjadikannya makhluk yang nyata, agar bisa mereka datang menemuimu yang kini sedang tak duduk bersama, menyampaikan rinduku yang tak pernah mati membebat raga yang kupunya.
Aku lukiskan rindu pada langit, pada purnama, pada setiap bukti keberadaan Tuhan di dunia, agar setiap apa yang ada di alam raya dapat bersekutu mengejakan huruf-huruf dalam cerita yang selalu kita perdengarkan untuk satu sama lainnya. Kamu tak pernah sendiri menjejaki setiap masa, karena ada rindu yang menjelma di setiap hal yang kau sentuh di sana.
Ada senyum. Ada canda. Ada perbincangan yang hangat. Ada kebahagiaan yang begitu dalam meliputi hati. Ada banyak ungkapan yang sudah sekian lama terbendung untuk bisa disampaikan ketika kita bersama.
Indah. Menenangkan. Penuh cerita dan penuh dengan berbagai warna.
Aku lantangkan rindu pada semesta, karena padanya rindu itu mendapatkan ruang yang kukuh menjaganya. Berharap Tuhan hadirkan dalam jiwa, satu mahakarya abadi sepanjang masa, cinta yang tulus menghangatkan sukma kita berdua.
Perbincangan Hangat
Berusaha untuk tidur, namun masih belum bisa dilakukan. Terganggu. Dengan rupa-rupa perbincangan. Di sekitarku.
“Banyak yang belum beres di negeri ini.”
“Ah, iya, banyak pemimpin yang masih korup dan tidak bertanggung jawab.”
“Media masa kini sudah dibajak dan dikontrol pemimpin-pemimpin lalim.”
“Pemimpin kita tidak menyelesaikan apa-apa.”
Berusaha untuk menjadi maklum, namun tak sepenuhnya mafhum dengan isu yang tiba-tiba menghangat.
“Listrik dan bahan bakar selalu saja naik, tak pernah turun.”
“Katanya negeri ini kaya. Tapi kita lebih banyak berlaku seperti orang miskin. Menyedihkan.”
“Mencari yang peduli, yang didapat justru yang anarkis. Gendheng.”
“Bingung. Kebutuhan-kebutuhan pokok mahal.”
Berusaha menutup telinga, namun masih tetap terdengar. Isu menghangat, perbincangan memanas, tangan mulai mengepal, caci maki sepertinya sudah mulai mengisi kehangatan obrolan di tengah usaha untuk beristirahat.
“Gendheng.”
“Sinting.”
“Keblinger.”
“Asu!”
Mulai terganggu. Penyumbat telinga digunakan. Musik dialunkan. Dendang lagu-lagu manis mulai menjadi teman dan kawan sepanjang perjalanan.
“Macet! Sampai kapan?”
“Sudah malam. Kapan sampai? Pelecehan dimana-mana. Banyak perkosaan.”
“Hipnotis. Gendam. Kapan amannya?”
“Pengap. Gerah.”
Tak berujung. Semakin ngawur. Tak ada habisnya diperdebatkan. Tak selesai-selesai dipertentangkan.
Perlahan, mulai mengepalkan tangan, mencengkram pegangan yang menjadi pemisah sejak sebelumnya. Kemudian menajamkan dan memicingkan mata, memandang bola-bola mata yang tengah memaksa bertukar suara, dan berkeinginan berkuasa dengan masing-masing rasa.
“Maaf semuanya. Bapak. Ibu. Kakak. Adik. Anda yang mulia. Saya muak mendengar kalian semua.”
Setengah berteriak. Memandang pengemudi yang tiba-tiba berwajah kesal. Meminta berhenti. Turun di bahu jalan.
“Asu! Gendheng kabeh!”
Penjara
Sederhana saja, apa yang terlihat terkadang tak pernah sama seperti yang kita pikirkan. Seseorang yang terlihat bahagia bisa saja tengah menangis tersedu-sedu karena tak sepenuhnya berani berbicara tentang kebenaran yang dimilikinya. Bahkan mereka yang kemudian menangis dan mengalirkan air mata melalui kedua bola matanya, tak selalu bisa kita tafsirkan tengah dalam kepahitan atau rasa sakit yang mungkin menderanya.
Begitu mudah kita berpura-pura. Karena rasa malu yang menyusupi bilik-bilik hati kita, dan karena rasa takut akan pikiran orang lain yang melihat kita berbicara terus terang dan apa adanya.
“Kamu sudah mengetahuinya sejak awal, kan?”
Aku tersenyum di hadapanmu, “Tentu. Aku sudah menduganya sejak awal. Dan, ternyata rasa sakitnya mulai kembali ia rasakan lagi. Sungguh bukan satu hal yang menyenangkan pastinya.”
“Iya, awalnya ia berusaha untuk menghindari rasa sakit dengan mulai mencintai seseorang yang ia pikir telah sepenuhnya mengenalnya. Namun nyatanya ia justru malah menenggelamkan dirinya dengan orang yang justru mencampakkannya hanya karena ucapan-ucapan yang tak pantas ditujukan kepadanya.”
Aku menggangguk saja. “Kupikir akan ada perubahan. Namun ternyata semuanya masih saja sama. Bahkan bisa jadi jauh lebih menyakitkan dibandingkan yang sebelumnya.”
Kamu tertawa. Tapi tak sepenuhnya tertawa lepas, kamu masih menahannya. Karena berusaha menghormatiku dan tak ingin menjadi terlampau keras berbicara. “Awalnya kupikir ia akan diperlakukan dengan manis dan dijaga sebaik-baiknya. Dan orang yang ia percaya akan sepenuhnya melindunginya dari apa pun yang mungkin menyakitinya. Nyatanya, sekali lagi ia dikecewakan.”
Tanganku bergetar. Bukan sekali kudengar ia dikecewakan. Entah karena apa, tapi hatiku menjadi sesak mendengarnya. Hanya karena ulah seorang saja, ketakutan akan memercayai seorang yang baru tentunya akan menjadi hal yang berat lagi nantinya. Ia seorang wanita yang baik, sangat baik. Tak pernah sekalipun ia berselisih denganku. Teringat beberapa kali kami dulu pernah bertukar sapa dan bersenda gurau bersama. Tapi di saat mendengar kabarnya yang kini tengah terluka. Pikiranku menjadi ikut terluka.
“Bagaimana denganmu? Masih terpikirkan dengan masalahmu yang lalu?”
“Rasanya sudah bukan lagi hal yang penting untuk kupikirkan. Kita telah melaju dan melangkah lebih jauh, berusaha melakukan sebaik-baiknya. Dan kita memang sudah meraih lebih banyak dibanding mereka yang masih saja sibuk dengan dirinya sendiri di sana.”
Tanganmu bermain dengan pena yang ada di depanmu. “Ya, kita telah banyak mengambil kesempatan dan mempergunakannya. Tak begitu peduli dengan onak duri yang orang lain lemparkan di sepanjang jalan kita. Dan kita masih saja bisa melewatinya dengan kaki yang tak terluka. Kurasa kita sudah menjawab kesempatan itu dengan usaha yang cukup berhasil.”
“Iya, dan ini bukan berarti kita telah puas, kan?”
“Tentunya, tidak. Kita masih bisa berusaha lebih baik daripada ini.”
“Bagaimana dengan temanmu itu sekarang? Masih suka berbincang dengannya?”
Kamu menggeleng pelan. “Ia tak pernah benar-benar bercerita. Ia mungkin juga tak sepenuhnya memercayaiku. Tapi, tak apalah. Tak juga harus kukorek segala sesuatunya, kan? Itu adalah rahasia yang ia ingin jaga dan kita tidak punya hak untuk ikut campur dengan itu semua.”
“Ya, baiknya memang seperti itu. Mencari-cari kesalahan dan rahasia orang lain tidaklah akan banyak memberi manfaat juga untuk kita berdua. Yang ada nantinya kita justru lebih banyak bercuriga terhadap semua orang. Dan, akhirnya kita menjadi terkurung dalam prasangka yang kita buat sendiri dalam benak kita. Kita memenjarakan diri dalam kecurigaan yang berlebih.”
Kamu lekas-lekas bertanya lebih jauh padaku. “Bagaimana kalau kita sudah terlalu sibuk memikirkan prasangka itu?”
“Kalau akhirnya kamu bertemu dengan seseorang setelah banyak menerima prasangka-prasangka yang diperdengarkan kepadamu. Mungkin ketika saatnya kamu bertemu, akhirnya kamu akan lebih banyak mencocok-cocokkan itu setiap kali bertemu dengannya. Sekedar mengkonfirmasi, itu mungkin bahasa lembutnya. Namun terasa seperti penuh dengan tuduhan tak berdasar kalau benar-benar kita resapi lagi lebih jauh.”
“Maksudmu bagaimana?”
“Ya, kamu sudah hidup dengan ‘penjara’ prasangkamu itu sebelumnya. Dan kamu akan berusaha membuka kunci dari penjaramu itu dengan mencari-cari cara dan bukti agar prasangkamu itu terjawab. Kamu telah hidup dengan lumpur prasangkamu. Dan pertemuanmu dengan orang itu hanya akan jadi ajang tuduhan yang tak mendasar yang berharap terjawab dengan harapan yang kamu punya.”
“Kejam sekali. Sepertinya, tanpa sadar, kita mungkin telah terbiasa seperti itu, ya? Mencaci-maki seseorang tanpa pernah berusaha mengenal atau mendekati siapa yang tengah kita maki. Menuduh seseorang karena cela yang juga tak pernah benar-benar kita ketahui memang dilakukan atau tidak olehnya. Ah, aku menjadi sesak sendiri memikirkannya.”
Aku tersenyum. Kamu telah mulai mengerti apa yang tengah kumaksudkan. “Hidup kita tidak lagi lebih baik kalau segala sesuatunya hanya berisi pikiran-pikiran buruk mengenai seseorang. Kita menjadi lebih banyak memikirkan kesalahan orang lain, tanpa berusaha mengoreksi apa yang mungkin salah dengan diri kita pribadi.”
“Kamu benar. Semut di seberang lautan tampak, sementara gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Menyedihkan.”
Sederhana saja, apa yang terlihat terkadang tak pernah sama seperti yang kita pikirkan. Seseorang yang terlihat bahagia bisa saja tengah menangis tersedu-sedu karena tak sepenuhnya berani berbicara tentang kebenaran yang dimilikinya. Bahkan mereka yang kemudian menangis dan mengalirkan air mata melalui kedua bola matanya, tak selalu bisa kita tafsirkan tengah dalam kepahitan atau rasa sakit yang mungkin menderanya.
Begitu mudah kita berpura-pura. Karena rasa malu yang menyusupi bilik-bilik hati kita, dan karena rasa takut akan pikiran orang lain yang melihat kita menjadi apa adanya.
Kita menjadi memaksakan diri untuk diterima. Padahal kita tahu, rasa takut dan kepura-puraan tak membawa kebaikan apa-apa. Kita mungkin ‘diterima’, namun dalam ‘kepura-puraan’ yang kita bentuk sendiri dalam ‘penjara’ yang terlahir karena terlampau mencintai diri sendiri begitu rupa.
Kasih
Rasa bersalahlah yang kini sedang bercokol di hatinya. Sebab hati yang terlampau bimbang karena ragu yang satu per satu muncul dan masuk mengisi lorong-lorong kecil, hitam dan sempit di dalam tubuhnya. Aliran keraguan dan ketidak-percayaan tak terbendung bersama pikiran-pikiran yang terus saja mengganggunya.
Bahkan di saat selama ini ia telah memupuk rasa percaya yang ia bangun dalam benak dan hatinya. Semuanya seakan tak lagi juga punya makna apa-apa. Karena kekhawatiran saja yang selalu mengetuk pintu kalbunya dan menawarkannya kebebasan dari rasa gelisah yang dihembuskan orang-orang di sekitarnya.
Ia tahu, ia harus memilih. Karena ia tentu tak bisa sepenuhnya berdiam diri begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Tapi ia masih tertekan dengan masa lalu yang pelan-pelan menghampiri dan berusaha membuainya lagi. Ingin ia melawan namun tak ada daya dan upaya di dalam setiap genggam tangannya. Ingin ia bicara namun tak ada kesanggupan di ujung lidahnya. Semua tenggelam bersama kegelapan yang perlahan memberangut keyakinannya.
Pelan-pelan. Perlahan. Ia menjauh. Berusaha menghindar. Tak kuasa merasa lebih baik dari apa yang sebelumnya ia pernah rasa. Sementara tak ia sadari, sesungguhnya masih ada Ia di sana. Memerhatikannya. Menjaganya. Memberikan jalan bagi setiap mimpi yang dimilikinya.
Seringkali ia lupa, ada limpahan nikmat dan keberkahan yang masih tetap diberikan kepadanya. Seringkali ia terlampau bercuriga, tak mengakui keberkuasaan Tuhan atas setiap rencana yang dipunyainya. Berlama-lama ia mengurung dirinya dan membuat batas yang tak ingin seorang pun melewatinya. Dan ia tak juga merasa lebih baik. Ia kembali merasa sepi dalam ingar bingar orang yang ada di sekelilingnya.
Tuhan telah mendatanginya lebih banyak daripada yang ia pernah pikirkan mengenainya. Tuhan tak pernah sekalipun meninggalkannya. Tuhan tahu apa yang tersembunyi di lubuk hatinya. Tuhan telah berikan jalan, tapi ia tak mau dengan tangan terbuka menggapainya. Tuhan telah berikan kekuatan, tapi tak juga ia memantapkan hatinya.
Tuhan tiada ingin membuatnya merasa sedih dan berduka. Sungguh Tuhan mengharapkannya bahagia. Andai ia membuka mata dan melihatnya dengan hati penuh cinta dan kasih akan sesama.
.
- Dengarkanlah Maher Zain – Open Your Eyes
Zarah
“Benarkah itu?” Raut wajahnya terasa masih penuh dengan hal-hal yang membuatnya ragu.
“Tentu! Aku tak mungkin membual dan mengada-ada!”
Ia melanjutkan. “Sungguh aneh.”
“Aneh bagaimana maksudmu?”
Kepalanya menggeleng cepat. “Tak apa. Tak seharusnya kita bicarakan.”
“Bicara saja. Bagaimanapun perjalanan kita mungkin masih akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.”
Pandangan matanya sendu. Seperti tengah begitu dalam menahan kesedihan dan rasa pilu. “Bukankah kita tidak seharusnya di sini?”
“Aku tak begitu pandai mengingat. Namun, bukankah tujuan dan seberapa jauh perjalanan kita sekarang sudah pernah diberitahukan sejak lama? Adapun bila akhirnya kita berada di sini sekarang, tentunya itu sudah jadi satu hal yang telah kita putuskan sejak dahulu, kan?”
Ia mendesah. “Iya, seingatku kita memang pernah diberitahu mengenai ini semua. Tapi, aku tak menyangka ternyata perjalanannya akan seperti ini.”
“Terkadang kita seringkali merasa semua akan baik-baik saja, ya? Sampai akhirnya kita lupa dengan hal-hal penting yang mungkin harus kita siapkan.”
Ia menggangguk pelan. “Ada banyak yang kita lupakan. Dan, ketika sampai di ujung perjalanan, terlalu banyak hal yang kemudian disesali.”
Perlahan, bersama dengan kesunyian yang menjadi teman sepanjang perjalanan kami. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan di kedua sisinya. Jendela-jendela yang berada di samping kami juga tak sepenuhnya luput dari kegelapan itu, kegelapan itu seperti tengah melahapnya sedikit demi sedikit. Yang tersisa hanyalah kursi-kursi kecil yang mungkin telah menjadi simbol penghakiman Tuhan atas setiap perlakuan kami semasa masih menghirup nafas di dunia yang fana sebelumnya.
Pandangan mata sahabat yang kini tengah berada di depanku itu pun rasanya tak pernah sekalipun terlepas dari kegelapan-kegelapan yang berada di sekelilingnya. “Aku tak menyangka. Tak pernah menyangka.”
“Apa yang kau khawatirkan?”
“Kita belum akan segera mencapai surga, kan? Karena ada hukuman yang tengah harus kita bayar tak lama lagi.”
Aku tak tahu harus menjawabnya dengan apa. Pun ketakutan dan kekhawatiranku sesungguhnya tak jauh berbeda dengannya. Di tengah perjalanan menuju pintu-pintu peradilan dariNya, kami tahu ini tidak akan menjadi mudah. Pun bila kemudian kami ingat lagi apa yang telah kami lakukan. Maka hanya penyesalan saja yang lebih banyak kami rasakan.
Di sepanjang perjalanan di alam barzah, beriring-iringan dengan kereta-kereta yang tengah mengantarkan kami ke hadapNya. Yang teringat hanyalah janji-janji yang sudah terlalu banyak teringkari. Janji untuk tetap beribadah dan menjadi hamba terbaiknya ternyata tak pernah bisa bertahan lebih lama. Segera setelah kefanaan dunia menjadi satu hal yang melenakan mata dan jiwa. Mulai tergugurkan semua janji yang pernah disimpan baik-baik dalam dada.
“Kau sudah siap dengan penghakiman dariNya?” Ia tiba-tiba bertanya.
Pandangan matanya tertuju kepadaku. Perlahan, meskipun terlihat penuh keragu-raguan. Ia berusaha bangkit dengan sisa-sisa keberaniannya menuju pintu yang berada tak jauh dari tempat duduknya, dan kemudian membuka satu per satu pegangan daun pintu di hadapannya. Ia melihat, dengan begitu jelas, semesta dunia di luar yang menyungkup ruang persidangan akan peradilan Tuhan atas kesalahan-kesalahannya. Mulutnya terkunci rapat. Ia tak lagi sanggup menutup matanya kembali sebab pikirannya terus menerawang, bertanya-tanya, tanpa tahu atas dasar apa.
“Kau sudah siap dengan penghakiman dariNya?” Aku berbalik bertanya kepadanya.
“Tak ada pilihan lain. Mungkin ini memang sudah waktunya. Hari peradilan untuk kita semua.”
Aku menggangguk, mengiyakan ucapannya. Dan kemudian berusaha untuk berdoa, meskipun aku tahu itu telah sangat terlambat kulakukan. Berharap ada sesuatu, meskipun kecil dan sebesar zarah, yang mampu menyelamatkan dari api yang menyala-nyala di ujung sidang peradilan yang akan segera kami hadapi.
Rahasia di Balik Pintu
Aku tak pernah terbiasa menguping. Itu bukanlah satu hal yang kusenangi selama ini. Karena rahasia adalah barang tabu di rumah ini. Tak seharusnya ada rahasia. Karena rahasia hanya membuat kecurigaan dan prasangka bertambah setiap waktunya.
Aku tak pernah mau menyengaja menguping, mencuri dengar apa-apa yang ada di balik-balik pintu. Karena sesuatu yang tak seharusnya kudengar, mungkin ada baiknya tak juga harus kuketahui. Butuh lebih dari sekedar keberanian untuk mendengar sebentuk kebenaran, karena pasti ada dentuman rasa yang bergejolak begitu saja nantinya. Entah apakah aku akan sanggup menyikapinya sebaik-baiknya.
Beberapa orang telah dengan sengaja mendatangi pekarangan rumah. Mereka membawa obor dan segala bentuk perkakas yang tak lazim mereka bawa ketika bertamu seperti malam ini. Aku yang tak mengerti maksud kedatangan mereka hanya bisa menyambut mereka dengan pandangan bingung. Pintu kamar masih terkunci. Aku yang baru saja pulang dari plesir juga belum sepenuhnya bergegas membukanya.
Lalu, yang terjadi selanjutnya hanyalah teriakan-teriakan yang membahana memecah keheningan malam saat itu. Aku menghadapi mereka. Bergegas mencari tahu atas dasar apa mereka mendatangi rumahku.
Lambat laun suara teriakan itu mengecil karena dipandu sang pemimpin unjuk rasa. Ada yang berzina di rumahmu. Kalimat itu yang pertama kali terdengar di telingaku.
Aku menggeleng. Mana mungkin? Kuutarakan itu kepadanya.
Ia bersikeras. Cobalah cari tahu apa yang ada di balik pintu kamarmu. Desak lelaki itu. Bukankah sudah seharusnya kau ketahui apa-apa saja yang terjadi di dalam rumahmu sendiri. Gegas lelaki itu melanjutkan.
Dalam hati aku meragu. Tak bisa sepenuhnya kupercaya apa yang mungkin akan kutemukan nanti di balik pintu itu. Sejak dulu aku telah memberikan maklumat yang terang dan jelas kepada istriku. Betapa rahasia bukanlah satu hal yang harus ada dalam mahligai rumah tangga kami berdua.
Aku sungguh tak terbiasa menguping. Tak ingin sekali pun mendekatkan indra pendengaranku agar menempel di daun pintunya. Bahkan bisik sekecil apa pun bukanlah satu hal yang kubayangkan akan kudengarkan darinya.
Namun, segerombol orang-orang yang tengah menunggu di depan pekarang bukanlah benda mati yang bisa kudiamkan begitu saja. Mereka sungguh terlihat murka dan aku tak punya kuasa apa-apa lagi selain memulai untuk menguping demi mendengar apa yang mungkin tengah terjadi di balik pintu.
Dan ketika telah dekat kupingku di daun pintu, tak kusangka ada suara desahan terasa begitu panjang. Istriku mendesah memecah malam. Bersama bisik-bisik suara seorang lelaki di lain suara. Aku terkejut. Geram.
Aku tak pernah terbiasa. Tak terbiasa untuk menguping dan menerima konsekuensi dari keingin-tahuanku sendiri. Aku geram. Jelas begitu marah. Rahasia memang terkadang jauh lebih menyakitkan bila diketahui satu per satunya.
Pahit. Tentu saja. Serupa menelan pil yang tak kau inginkan sedikit pun rasanya.
Terburu-buru lelaki-lelaki di depan pekarang rumah merangsek ke dalam rumah. Mereka telah lama menguping, bahkan mungkin sudah sejak lama memata-matai. Aku kebingungan. Kaki terasa lemas dan tak berdaya. Bahkan untuk melindungi istri yang selama ini kupercayai pun rasanya sudah tak bisa lagi.
Mereka masuk bersama seru-seruan yang semakin malam semakin keras. Pintu ditendang dengan keras. Sudah tak ada lagi rahasia yang bisa disembunyikan.
Mereka tengah bertelanjang. Tak lagi bisa kulihat sehelai pun kain menutupi mereka berdua.
Janji hanyalah janji. Ucap manis tak lagi berarti apa-apa.
Diseret keduanya, dibawa ke tengah desa, bersama rahasia yang selama ini mereka jaga. Aku terpana. Tak bisa mencari-cari pembenaran apa-apa.
Kau tahu? Aku tak pernah terbiasa menguping. Itu bukanlah satu hal yang kusenangi selama ini. Karena rahasia adalah barang tabu di rumah ini. Tak seharusnya ada rahasia. Karena rahasia hanya membuat kecurigaan dan prasangka bertambah setiap waktunya. Setidaknya itu yang kupelajari. Ya, meski dengan satu cara yang mungkin kau saja tak ingin sekali pun hadapi.
Dan Ketika
Pertama kali mengenalmu, yang kutahu hanyalah satu. Kau menulis. Begitu banyak yang telah kau torehkan dengan penamu. Dan telah tertanam kekaguman itu sejak awal.
Pertama kali menyapamu, yang kuinginkan hanyalah satu. Kau berbagi hangatmu, tanpa kemudian akhirnya merasa berkeberatan meninggalkan senyum di balik setiap kata-katamu. Dan sejak saat itu, telah terlahir damba yang semakin hari semakin dalam di hatiku kepadamu.
Pertama kali mendengarmu, yang kurasakan hanyalah satu. Hati yang sendu karena rindu yang telah tertumpuk bersama waktu, akhirnya sedikit demi sedikit luruh dalam tawa yang terasa sangat manis dari bibirmu. Dan semakin dalam rasa ini menyatu di setiap aliran darahku.
Kita sering berkelakar. Bahwa dunia dan kehidupan yang kita jalani hanyalah sekedar miniatur saja. Kita tak pernah hidup dalam satu dunia yang kita ketahui segala sesuatunya. Bersama udara yang kita hirup, hanyalah selayang pandang yang mampu tertangkap mata saja yang menjadi dunia kita. Bersama setiap mimpi yang kita buat, hanyalah itu saja yang mampu tergenggam dalam tangan kita.
Namun, kita memang tak pernah sepenuhnya berhenti menikmatinya. Kita hanya mengambil jeda dan kemudian menyisihkan satu per satunya untuk kita sendiri nantinya.
Bahkan saat kita merasa sepenuhnya rapuh. Kita tetap sama-sama yakin hidup selalu bisa kita hadapi bersama.
Pertama kali merindumu, yang kuinginkan hanyalah satu. Kau mengetahui apa yang tertuliskan begitu jelas di dalam benakku. Ya, itu, adalah, kamu.
Pertama kali, ya, pertama kali. Memanggil namamu. Menuliskannya bersama awan yang saling beriringan bersama langit biru milikku. Aku tahu dan sepenuhnya sadar. Kamu telah sepenuhnya mencuri perhatianku.
Sederhana
Keinginannya sungguhlah sederhana. Tak banyak yang dikehendakinya. Hidup tenang, sederhana namun terpenuhi segala kebutuhannya. Namun, menjalani hidup di zaman yang sinting seperti saat ini memang tak mudah dilalui oleh sebagian besar lainnya. Pun ketika berusaha untuk menjadi seorang kepala keluarga yang baik dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya, ia pun meragu, karena ia pun tak sungguh bisa memberikan nafkah yang mencukupi untuk keluarga dan terutama istrinya.
Ajaran agamanya sudah barang tentu telah dipahaminya benar-benar, ajarannya masih sangat ketat memberitahukannya, agar ia berusaha menjadi pribadi yang baik dan mencari nafkah dengan cara sebaik-baiknya. Yang jelas halalnya, tidak tercampur dengan sesuatu yang bakhil ataupun haram di dalamnya.
Namun, bahkan mencari sesuap nasi dengan cara yang sudah jelas haramnya pun tetap saja susah dan bukan berarti tak ada resikonya. Bilakah nasib umat manusia dihadapkan pada kenyataan seperti ini setiap saatnya? Kepada siapa ia harus mengadu? Pun bila berdoa tanpa ikhtiar tentunya hanyalah satu kebodohan saja. Ia pun tetap harus juga bekerja keras di luar setiap doa yang dipanjatkannya.
Ia seorang lelaki, yang memang sepantasnya mencari rezeki, di tiap-tiap sisi muka bumi. Itu satu hal yang memang disadarinya baik-baik selama ini.
Berkali-kali pemimpin semasa hidupnya telah berganti, dari lurah, camat, bupati hingga gubernur. Semuanya silih berganti, tidak pernah sampai di titik jemunya. Sementara ia bersama keluarganya pun belum juga mendapatkan perbaikan rezeki, tak pernah ada perubahan yang berarti. Bahkan mungkin sudah sampai pada titik jemunya. Kebosanan dan kesakitan yang mendalam karena kondisi yang tak jua berakhir kemalangannya.
Pendidikan di masanya masih bisa ia dapatkan dengan mudah, namun itu tak lagi berlaku bagi anak-anaknya. Bahkan biaya agar anak-anaknya menjadi beradab dan tahu dunia pun ternyata lebih mahal daripada apa yang selama ini mereka bisa kumpulkan untuk yang mereka bisa makan setiap harinya.
Bahkan untuk sekedar merasakan badan yang kuat, tak terjangkiti penyakit, ternyata sudah bukan lagi satu hal yang mudah. Obat-obatan terasa seperti harta karun. Diketahui keberadaannya, tapi tak mudah untuk didapatkan. Kesulitan yang satu per satu, kadang bergerombol, datang menghampiri.
Kepada siapa ia harus mengadu? Sebagai hamba ia telah terus-menerus meminta kepada khaliknya. Sebagai warga, tak juga ia temukan bantuan dari mereka yang menyebut dirinya sebagai pemimpinnya.
Keinginannya sederhana. Hidup bahagia bersama keluarganya. Namun mengartikan kata bahagia pun sudah sulit ia lakukan. Entah karena apa.
Lingkar Hangat
Setiap ucap adalah doa. Setiap laku adalah usaha. Sedikit demi sedikit, Tuhan akan mendekatkan. Jarak terpangkas dan tak akan ada lagi jeda.
Harapan akan selalu ada. Doa-doa akan terkabulkan. Hanya masalah hitungan kapan semua akan terjawab. Kita hanya manusia yang sedang belajar menjadi pemberani. Berani bersama menata hari di depan yang bahkan tak pernah kita tahu seperti apa rupanya.
Di bibirku, tergantung huruf-huruf yang tak jemu memuja keistimewaanmu.
Di tanganku, tergenggam kata-kata yang terlahir dari kasih sayangmu.
Di benakku, mengendap setiap kenangan yang kudapatkan ketika bersamamu.
Semua menjadi satu di tarikan nafasku. Menjadi pengingat atas keberadaanmu. Aku tak tahu tentang waktu, tentang jarak, tentang siapa dan apa. Namun semua hal yang tertinggal tentangmu selalu akan ada seperti kabut yang enggan pergi di pagi hari.
Seperti itulah kumulai setiap pagiku, dengan melukiskan senyummu di balik awan, agar nantinya ia menyatu di biru langit.
Kusadari. Ketika bersamamu, kita akan selalu tertawa bersama. Mengukir canda yang meluaskan hati kita berdua dalam memandang dunia yang kita hadapi setiap saatnya.
Seperti itulah yang kuinginkan ketika dekat denganmu. Ingin kulingkarkan tanganku dalam peluk hangat yang akan kudapatkan darimu. Agar tercipta senyum manis dari sudut bibir tipismu.
Ingin kusimpan kedua tanganku di kedua pipimu. Dan kukecup lembut keningmu.
Dan begitu pula ingin kuakhiri hari dengan bercerita bersamamu. Entah baik atau buruk kau selalu bersuka cita mendengarkan cerita bahagia bahkan keluh kesah yang tak pernah membuatmu lelah sedikit pun.
Pelukan hangat yang kau kirimkan bersama sisa hujan selalu dapat menenangkan resah yang tiap kali kurasa. Lalu kita akan saling mengirimkan doa pada penghujung malam agar rasa di antara kita dapat menggantikan waktu dan jarak yang membuat kita terpisah.
Tulisan Kolaborasi Teguh Puja dan Indah Lestari
Sampah
Bukan keinginannya untuk terlahir di keluarga yang papa. Bukan juga kemauannya untuk tidur beralaskan tikar bekas yang penuh dengan lubang dimana-mana. Bukan salah Tuhan bila hidupnya terasa sulit seperti seakan-akan semua masalah dibebankan di atas pundaknya. Bukan.
Tak ada satu pun yang patut dipersalahkan. Itu yang selama ini tersimpan dalam benaknya. Tak adil rasanya menyerapahi Tuhan atas hidupnya yang tak kunjung membaik. Tak perlu juga akhirnya ia menyumpahi diri dan keadaan keluarganya yang semakin hari semakin buruk.
Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Entahlah. Tugasnya tetaplah sama. Berusaha dan berusaha. Karena berdoa saja dirasa tak bisa sekalipun membuat lapar yang ia rasa menghilang karena doa. Doa tanpa sebentuk ikhtiar pun hanyalah omong kosong saja, ia tetap perlu berusaha lebih giat.
Seperti semut-semut hitam yang mencari dedaunan untuk kemudian mereka kumpulkan dan jadikan bekal untuk persediaan makan yang dibutuhkan nantinya. Ia akan bergerombol bersama lelaki dan wanita tua muda di sekitar tempat pembuangan sampah di pinggir kota. Satu per satu sampah yang bisa ia pisahkan dan masukkan ke dalam keranjang, adalah penyambung hidupnya dari hari ke hari.
Truk-truk pengangkut sampah itu akan datang setiap hari, ketika sang raja siang sudah tegak di atas langit dan tersenyum dengan membawa teriknya yang membuat bulir-bulir keringat di dahi dan badan mereka semua jatuh menyentuh bumi perlahan. Terkadang tanpa sadar, tak ayal terbersit dalam pikiran mereka semua, semoga setiap bulir keringatnya menghilangkan kemalangan yang mereka hadapi setiap harinya.
Semua sudah sepenuhnya menyadari. Siapa pun bisa mengalami kemalangan yang jauh lebih mengerikan di sana dibanding bila mereka lakukan itu di jalanan kota. Ketika truk-truk berdatangan dan menurunkan satu per satu bawaannya. Tak jarang mereka harus berlari, tergesa-gesa dan akhirnya saling bersikutan. Tak seorang pun ingin pulang dengan rasa lapar dan dahaga yang menjadi-jadi.
Di bawah langit, di atas bumi, di sekitar mereka, lautan sampah itulah yang akan menjadi rezekinya. Bukan tanpa pandangan yang menghinakan mereka jalani itu semua. Seringkali akan datang orang-orang berbaju layaknya tentara mengusiri mereka agar tak berada di sana. Plang-plang tanda bahaya agar tak menyeruak masuk itu sudah sepenuhnya tak mereka pedulikan lagi. Karena jauh di dalam lubuk hari terdalam mereka, tak sanggup mereka temukan lagi tempat lain untuk mendapatkan sesuap nasinya.
Di luar tempat ini, di jalanan, tatapan yang jauh lebih menyakitkan akan lebih sering mereka dapatkan. Karena, bagi sebagian besar, mereka tak lebih dan tak kurang bedanya dengan sampah yang mereka kumpulkan setiap harinya. Di mata sebagian itu, mereka pun adalah sampah. Karena tak ada sampah yang lebih nyaman hidup dengan sampah.
Dan bila akhirnya senandung-senandung lagu negeri yang semakin harinya semakin suram dan membawa duka ini mereka dengarkan setiap malamnya, hanya doa atas negeri yang semoga saja segera sembuh dari luka-lukanya dan kembali membaik dan membawa masing-masing dari mereka keluar dari sana. Doa-doa itu tulus mereka haturkan ke atas langit, dalam setiap sujud yang juga seringkali terasa berat setelah sepanjang hari berjibaku dengan kemalangan yang tak pernah selesai mereka jalani.
Ia dan mereka tahu semua kemalangan akan berakhir. Ia dan mereka masih tetap percaya.
Keliru
Sebagaimana sudah bisa kau duga, tak akan menjadi mudah. Kau pernah berharap bahwa pada satu masa negeri ini akan berubah dan menjadi seperti yang kau bayangkan sebelumnya, namun ternyata yang kau dapati hanyalah negeri yang masih tetap seperti keadaan sebelumnya, bahkan mungkin lebih buruk.
Kau lebih banyak terdiam. Selembar ijazah yang kau pegang tak banyak membantu apa-apa. Dulu pernah kau bayangkan hari depan yang berbeda. Namun nyatanya tetap saja sama. Dulu pernah kau yakini bahwa dengan selembar pengakuan itu keluargamu akan terangkat dari lembah kemiskinan yang selama ini menjerat kalian sejak lama. Lembar ijazah itu tak banyak membantumu. Dan kau hanya bisa memaki. Tak jelas siapa yang kau maki.
Di bawah atap-atap gedung yang berdiri gagah mencakar langit. Kau serupa semut kecil, terkalahkan oleh hingar bingar metropolitan. Kerja kerasmu seakan tak berguna sedikit pun. Impianmu masih terasa jauh untuk kau capai dan kau hanya bisa menyumpah.
Ibukota menghancurkanmu dengan mudah. Hingga akhirnya, seperti yang selalu terjadi, yang kau temukan di penghujung hari hanyalah cermin retak yang merefleksikan rasa sakitmu akan kekecewaan yang tak pernah terlihat jedanya. Terkadang kau hanya bisa menertawakan apa yang selama ini tengah kau perjuangkan. Sementara orang-orang yang kau tahu tak sepenuhnya berusaha, yang hanya bisa bermalas-malasan, ternyata jauh lebih banyak mendapat tempat di gedung-gedung yang terkesan menantang langit itu.
Kejujuran yang selama ini kau jaga baik, ternyata tak kemudian memudahkanmu mendapatkan apa yang kau mimpikan. Mereka takut dengan kejujuranmu. Takut dengan apa saja yang bisa mereka dapatkan ketika kau berada di tengah-tengah mereka. Maka, setiap harta benda yang telah mereka kumpulkan hanya akan menjadi buih-buih yang dengan mudah tersapu hukum yang bisa memenjarakan mereka.
Berkali-kali, di tempat yang berlainan, hanyalah penolakan yang kau terima. Bukan hanya selembar itu saja yang mereka harapkan, tapi sejumlah uang yang bisa mereka nikmati di akhir harinya. Pelicin. Begitu mereka bisikkan ke telingamu selama ini. Selalu harus ada pelicin untuk setiap keinginan yang kau miliki.
Tak ada orang yang jujur di masa ini. Kata-kata itu yang selalu terdengar dan sampai di pendengaranmu. Dan memang bukan lagi masanya menjadi orang jujur di negeri ini. Kalimat-kalimat itu yang kemudian terus saja bergantian masuk dan keluar di benakmu.
Sukacita yang kau dapat di hari kelulusanmu. Sukacita yang kau dapat ketika pertama kali kau injak kakimu di perguruan tinggi pilihanmu. Sukacita yang keluargamu dapat ketika kau berhasil menyelesaikan satu per satu ujian yang negerimu beri. Sukacita itu menjadi tak lagi bernilai apa-apa lagi. Semua sukacita itu ternyata tak sepenuhnya mendekatkanmu dengan mimpimu. Karena mimpi pun kini harus dibeli, dan kejujuran yang selama ini kau pertahankan pun sudah tak lagi membuat perbedaan yang berarti.
Sudah sedemikian tak berharganya nilai-nilai yang hari per harinya kau tegakkan. Dan, hari depan yang kau mau, semakin hari semakin menjauh.
Ketika akhirnya kau kembali dan terduduk di depan kedua orang tuamu yang menanti. Hanya rasa sakit dalam dada yang terus saja menggenapi.
Komentar (22)