Mahakarya Abadi

Aku lantangkan rindu pada ruang udara, karena hanya itu ruang dimana kita satu, menghela nafas yang sama. Berharap udara akan menggaungkannya, membuatmu mendengarnya meski kau tak ada di pelupuk mata.

Aku lipatkan lembaran kertas-kertas putih yang ada di depan mata, kubuat itu menjadi burung-burung maya, agar setiap rasa yang tercurah dalam dada, bisa menyatu dalam satu bentuk yang sama-sama kita suka. Berharap Tuhan menjadikannya makhluk yang nyata, agar bisa mereka datang menemuimu yang kini sedang tak duduk bersama, menyampaikan rinduku yang tak pernah mati membebat raga yang kupunya.

Aku lukiskan rindu pada langit, pada purnama, pada setiap bukti keberadaan Tuhan di dunia, agar setiap apa yang ada di alam raya dapat bersekutu mengejakan huruf-huruf dalam cerita yang selalu kita perdengarkan untuk satu sama lainnya. Kamu tak pernah sendiri menjejaki setiap masa, karena ada rindu yang menjelma di setiap hal yang kau sentuh di sana.

Ada senyum. Ada canda. Ada perbincangan yang hangat. Ada kebahagiaan yang begitu dalam meliputi hati. Ada banyak ungkapan yang sudah sekian lama terbendung untuk bisa disampaikan ketika kita bersama.

Indah. Menenangkan. Penuh cerita dan penuh dengan berbagai warna.

Aku lantangkan rindu pada semesta, karena padanya rindu itu mendapatkan ruang yang kukuh menjaganya. Berharap Tuhan hadirkan dalam jiwa, satu mahakarya abadi sepanjang masa, cinta yang tulus menghangatkan sukma kita berdua.

111 Komentar

Filed under Life, Love and Laugh, University of Life

Bintang Jatuh

dan, dahulu, kita pernah
menyapa malam dengan cerita kita berdua
sibuk bersaing, tak ingin kalah,
dengan suara-suara yang kaya
dari binatang-binatang malam,
yang baru saja memulai harinya

dan, dahulu, kita juga pernah
menunggu gemintang berbagi cahaya
saling menunggu, melawan lelah,
tak ingin cepat terlelap, berusaha tetap terjaga
agar tak hilang rindu yang tertahan dalam dada

pernah satu waktu,
kita berbincang tentang bintang jatuh
tertawa membayangkan mimpi yang akan terkabul
berbahagia memikirkan doa yang akan terwujud
berharap jatuhnya, menjadi pembawa kabar baik
untuk keresahan yang kita miliki sebelumnya

kau pernah berkata,
“ketika bergesekan dengan atmosfer
akan muncul ekor api,
kau mungkin akan ketakutan,
pun juga merasa khawatir,
tapi tak lama setelahnya,
kau kan temui indahnya detik-detik
yang menghentikan napasmu”

begitu juga saat menemukanmu
lelah payah, napasku tertahan
tak bisa sepenuhnya percaya
karena tak kuasa membayangkan
ada kehadiranmu di sana
dekat dan tak berjarak
di hadapanku

dan, dahulu, kita pernah
menyapa malam dengan cerita kita berdua

sibuk bersaing, tak ingin kalah,
saling menunggu, melawan lelah,

namun, kini, aku tak kuasa,
tak sepenuhnya bisa–
menata bahasa, membuatnya agar tetap menjadi indah,
menikmati waktu, mencoba membuatnya terasa mudah

kuharap kau tetap tahu,
rindu itu ada,

di sini,

terasakan ada,
terkatakan tidak

30 Komentar

Filed under Poetry

Kupu-kupu

Kan kusampaikan cerita
Kepada kupu-kupu yang memanja
Pada riang ceria lelaki yang menyimpan pesan di sayapnya

Kan kutitipkan suara
Pada senyum simpulnya
kupu-kupu yang memanja
Agar sampai cerita itu padanya
tentang lelaki yang tengah tak bisa berkata-kata seperti biasanya

Semoga kupu-kupu itu sampai
Pada genggaman wanita yang dituju
Dan pesan itu diterima sempurna hingga relung hati

Kutitipkan doa yang sama
Pada kupu-kupu yang hidup di antara
Doa agar seorang wanita yang tengah duduk di sana
Menikmati kehangatan dari Tuhan dalam dadanya

Kutitipkan doa
Melalui kata-kata
Yang kulukiskan di sela-sela warna manisnya
Semoga kau melihatnya
warna dunia yang berbeda
warna yang menggenapkan syukurmu dan kecintaanmu padaNya

6 Komentar

Filed under Poetry, []

Senja yang Menggantung

Seorang lelaki tua tengah tersenyum, di balik dinding yang tengah menjadi pembatasnya dengan dunia sekitarnya. Lelaki tua itu kini tengah dirawat di sebuah rumah sakit besar di kota tempat anak cucunya tinggal. Ditemani dengan beberapa pembantu anaknya, lelaki tua itu terbaring dan tak henti mengucapkan doa dari dalam lubuk hatinya. Ada keinginannya untuk segera menyambut malaikat yang mungkin sebentar lagi menjemputnya. Tapi, ada juga kekhawatiran yang masih membuatnya masygul dan tak rela untuk segera meninggalkan dunia.

Bukan karena takut mati dan karena kecintaannya kepada dunia yang membuatnya masygul, tapi ada kekhawatiran yang jauh dari itu semua. Semua itu bersumber dari anak-anaknya. Lelaki tua itu khawatir akan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan tersesat. Telah lelaki tua itu lihat di beberapa bulan masa tinggalnya di rumah anak-anaknya. Betapa sudah hilang dan mulai terkikis kehangatan yang selama ini ia harapkan ada pada kehidupan keluarga anak-anaknya.

Teringat dengan saat pertama tinggal di rumah anak bungsunya, lelaki tua itu hanya bisa banyak mengurut dadanya. Jika dulu setiap sore menjelang magrib, ia dan almarhum istrinya, akan dengan suka cita menyiapkan diri menyambut malam. Bersama istrinya, ia akan mengajak anak-anaknya untuk bersembahyang bersama. Anak tertua dari ketiga anaknya itu akan mengajak adik-adiknya itu segera membasuh semua anggota wudhunya dan semua berlomba-lomba menyiapkan sajadah untuk mereka sembahyang. Mereka akan shalat berjamaah, khusyuk dalam setiap rakaatnya, hingga sampai ke makan malam bersama di meja makan dengan suasana hangat di tengah-tengah rumah mereka.

Sekarang tak lagi bisa ia lihat itu dari keluarga anak bungsunya, cucu-cucunya seringkali belum pulang meski sudah sampai malam menjelang. Kedua orangtuanya pun sama saja, mereka seringkali pulang malam. Sementara ia, lelaki tua itu, hanya ditinggalkan bertiga bersama kedua orang pembantu di rumahnya. Ia tak menyangka, di usia senjanya itu, kesepianlah yang justru semakin sering menyapanya. Bukan tawa hangat dan peluk mesra dari anak cucunya. Sesuatu yang kini ia sangat rindukan.

Tak betah lelaki itu tinggal di rumah anak bungsunya. Bukan tak menghargai tawarannya untuk tinggal bersama, tapi tak nyaman ia bersama-sama dengan orang-orang yang justru lebih sibuk dengan dirinya sendiri tinimbang dengan keluarga yang ada di sampingnya.

Satu bulan berselang, anak keduanya meminta lelaki tua itu untuk tinggal bersama. Lelaki itu menerima dengan cepat tawaran itu, karena berpikir anak keduanya bisa lebih dewasa daripada adiknya. Lagipula, anak keduanya seorang perempuan dewasa. Sudah barang tentu baktinya pun lebih besar. Lelaki itu berharap besar, berupaya untuk tetap percaya bahwa itu tak cuma sekadar keinginannya saja. Ia berusaha berprasangka baik. Seperti pinggan dekat dengan mangkuk, salah sedikit sudah terantuk, masalah dalam keluarga tentu ada saja, ia harus memahaminya, dan bila anak keduanya berkenan, memberinya kesempatan juga untuk menasihatinya.

Namun, tak ubahnya seperti ketika tinggal bersama dengan anak bungsunya, ia pun melihat masalah yang tak ia sangka ada di keluarga anak keduanya. Setiap hari, terutama ketika malam, anak kedua dan menantunya akan bertengkar hebat. Tak peduli malam sudah berlalu, mereka akan saling menyalahkan satu sama lainnya. Kedua-duanya merasa benar dan tak mengakui kesalahan masing-masing. Lelaki tua itu, sama sekali tak dihargai keberadaannya. Tak malu keduanya. Bahkan tanpa sengaja, di malam di minggu kedua masa tinggalnya itu, terdengar ketidak-setujuan anak kedua dan menantunya itu tentang keberadaannya di rumah itu. Lelaki itu merasa sakit hati dibuatnya. Untung melambung, malang menimpa. Ia merasa tidak diberikan kesempatan untuk mendapati waktu dan kesempatan untuk menikmati usia senjanya itu dengan tenang.

Kini ia berharap pada anak sulungnya, anak yang paling ia harapkan bertanggung jawab, melebihi adik-adiknya. Wajar jika lelaki tua itu berharap seperti itu. Sejak kecil, lelaki itu melihat sosok yang penyayang namun tegas terhadap adik-adiknya. Sejak almarhum istrinya meninggal dunia, anak sulungnya itu membantunya mengasuh dan mengajari adik-adiknya perihal baik dan buruk. Lelaki tua itu pun tinggal bersama anak sulungnya yang kini hidup mewah dan sangat berkecukupan itu.

Awalnya, lelaki tua itu begitu gembira dengan sambutan hangat anak tertuanya. Anaknya itu memang sibuk, namun setiap sepulang bekerja, anaknya itu akan ada di sampingnya, bernostalgia mengenai hal-hal di masa lalu saat mereka masih tinggal dalam satu rumah yang sederhana. Ia dan istrinya juga tampak rukun, tak seperti kehidupan rumah tangga anak keduanya. Mereka hanya memiliki satu anak, yang kini sedang disekolahkan di luar negeri. Lelaki tua itu begitu bangga, setidaknya anak sulungnya mampu membanggakannya, memiliki kehidupan yang sempurna dan tak kurang suatu apa.

Namun kebahagiaan lelaki tua itu tak berlangsung lama, saat rumah anak sulungnya itu didatangi oleh sekumpulan petugas dari kepolisian dan komisi pemberantasan korupsi. Bagaikan mendengar petir di siang bolong, lelaki tua itu tak menyangka anak sulungnya yang dianggapnya sempurna itu pun ternyata sama mengecewakannya. Bahkan lebih parah dari adik-adiknya, karena kini kabar anak tertuanya yang meraup kekayaan dari uang negara itu sudah masuk ke dalam media massa. Lelaki tua itu begitu terpukul. Anak sulung yang ia harapkan sebagai anak emas keluarga, kini malah balik mempermalukan nama keluarga besar mereka.

Dan waktu bergulir begitu cepat setelah itu, di balik dinding yang tengah menjadi pembatasnya dengan dunia sekitarnya, lelaki tua menghabiskan sisa-sisa waktunya terakhir di sebuah bangsal rumah sakit besar di kota tempat anak cucunya tinggal. Ditemani dengan beberapa pembantu anaknya, lelaki tua itu terbaring dan tak henti mengucapkan doa dari dalam lubuk hatinya. Ia tetap berusaha tersenyum, dalam kepahitan yang menyakitkannya itu. Terbersit keinginannya untuk segera menyambut malaikat yang mungkin sebentar lagi menjemputnya. Tapi, ada juga kekhawatiran yang masih membuatnya masygul dan tak rela untuk segera meninggalkan dunia, dan itu adalah janjinya kepada almarhum istrinya, janji untuk tidak meninggalkan anak cucunya tanpa memberikan bimbingan dan tuntunan seperti yang sudah dan pernah ia berikan sejak dulu. Ia tahu, tanggung jawabnya sebagai seorang orangtua masih tetap tak berhenti hingga napas terakhirnya. Karena tak ada hal yang lebih utama baginya, kecuali doa-doa yang nanti akan terucap oleh anak cucunya saat ia tiada. Doa dari anak-anak shalih yang berakhlak mulia. Satu yang sedang coba ia upayakan di akhir waktunya.

13 Komentar

Filed under Life, Love and Laugh

Jeda

Sesekali, seorang harus terampil mengambil jeda, membuat jarak antara dirinya dan ruang yang ada di sekitarnya. Karena ruang yang sesak, hanya akan membawa pikiran menjadi sempit. Dan selayaknya pikiran sempit, ia hanya akan mendatangkan kemalangan.

Teringat dengan satu momen dengannya, Opa, yang sudah lama meninggalkan kami semua, panutan dan pusat dari dunia kami sekeluarga. Ia dulu pernah menghampiriku, mengajak bicara.

“Menurutmu, Nak, apa yang masih kurang dari hidup kita? Saat banyak orang ternyata lebih sering merasa sesak dengan kesibukan yang dipilihnya. Saat kebanyakan orang ternyata tak bisa mensyukuri apa-apa saja yang ada di genggaman tangannya.”

Aku termangu mendengarnya, tak menyangka akan mendapati tanya seperti itu. Pelan-pelan, seiring dengan embusan angin yang terasa menggigit, pikiranku berupaya mencari jawabannya. Namun aku masih tak bisa mendapatkan apa-apa. “Aku tidak tahu, Opa.” Opa tersenyum. Aku menjadi kikuk dibuatnya. “Mungkin Opa bisa membantuku menjawab lagi.”

Tiba-tiba gelak tawanya terasa renyah di telingaku. “Pada akhirnya, aku juga yang harus menjawabnya, Nak?” Ia terkekeh. “Nak, ayo ikut menyapu. Nanti kita jawab bersama-sama sambil menyapu.” Ia menunjuk sapu yang berada tidak jauh dari tempat kami duduk.

“Baik, Opa.” Aku bergerak cepat mengambil sapu lidi yang cukup besar. Opa sudah memegang sapu lidi lainnya dan mulai menyapu pekarangan. Aku mengikutinya.

“Nak, hidup itu kadang tak ada bedanya dengan rumah dan pekarangannya. Bisa menjadi sangat kotor, bau, tak enak dilihat dan terasa sesak. Bahkan puncaknya banyak yang merasa rumah itu seperti sudah lagi tak layak ditinggali, tak layak diperjuangkan.” Opa mengambil pengki di dekat pagar kayu yang tak jauh dari tempatnya menyapu. “Tapi,” ia melanjutkan lagi, “seperti pekarangan rumah yang sesak tadi dengan sampah dan kotoran. Kita bisa memeliharanya, kita bisa selalu membersihkannya lagi. Membuatnya kembali untuk nyaman ditinggali lagi. Menjadikannya indah untuk dilihat lagi.”

Aku mengangguk. “Kalau memang kita punya cukup waktu untuk melakukan itu, sudah semestinya seperti itu, kan, Opa? Karena yang tentu bertanggung jawab dengan rumah dan pekarangannya itu tentu pemilik rumahnya, bukan orang lain.”

Opa memandangku. Lalu ia melayangkan tanya baru untukku. “Lalu mengapa banyak orang masih banyak mengeluh dan lebih cenderung memandang negatif hidup yang dijalaninya?”

Aku terdiam. Mencoba mengikuti jalan pikiran dan memahami pikiran Opa.

“Karena banyak orang merasa tidak punya banyak waktu. Banyak yang berpikiran bahwa waktu yang mereka miliki tidaklah sebanyak yang orang lain punya. Bahkan banyak yang menuntut tambahan waktu dalam satu hari. Seperti merasa sesak sendiri dengan dua puluh empat jam yang sudah Tuhan beri bagi masing-masing hambaNya itu.”

Aku tertegun membayangkan orang-orang yang selama ini pernah kutemui. Nyatanya, memang tak semua orang bisa mensyukuri waktu dan kesempatan yang mereka punya. Beberapa bahkan lebih sering berceloteh, ingin mendapat waktu yang lebih banyak dari biasanya. Karena waktu yang telah mereka habiskan, ternyata masih belum sepenuhnya bisa memuaskan dahaga mereka akan kesenangan yang mereka inginkan. Banyak juga yang terkadang merasa waktu terlalu cepat berlalu, hingga mereka merasa tak sepenuhnya bisa menikmati masa-masa mudanya. Aku mengernyitkan dahi. Tak sepenuhnya mengerti.

Sementara itu, Opa masih telaten membersihkan daun-daun yang ada di pekarangan rumah kami. Dengan sapu lidinya itu, Opa memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Daun-daun itu dikumpulkan secara perlahan ke keranjang bambu di dekat pohon di depan rumah. Meski di usia senjanya itu, Opa terlihat masih sangat segar dan juga bahagia. Tidak seperti orang-orang seusianya.

“Lalu mengapa banyak orang masih tetap seperti itu, Opa?”

“Itu karena kebanyakan kita seringkali lebih senang melihat ke luar, bukan melihat ke dalam. Kita lebih senang membuat perbandingan dengan orang lain. Sehingga apa yang kita punya, seakan-akan tak pernah lebih besar, lebih berharga, dan lebih banyak daripada yang orang lain sudah punya. Seperti yang Opa tadi katakan, hidup itu kadang tak ada bedanya dengan rumah dan pekarangannya. Kalau mau mencari-cari kekurangan dari diri kita, dengan membandingkan kelebihan yang orang lain punya. Kita hanya akan merasa kurang, dan kita jadi lupa untuk bersyukur. Sementara, kita sendiri tidak pernah sepenuhnya tahu masalah apa yang mungkin orang lain punya dan hadapi, karena kita juga terlalu sibuk memikirkan kelemahan sendiri.”

Opa memindahkan sampah yang sudah terkumpul di dalam pengki ke tempat sampah yang lebih besar. “Kalau saja, semua orang mau memulai membersihkan rumah dan pekarangannya mereka sendiri tanpa terlalu banyak mencari-cari apa yang bisa diperbandingkan dengan orang lain. Niscaya setiap orang akan mendapati rumah dan pekarangan mereka bersih dan terawat seperti yang sudah selayaknya mereka dapatkan dari pekerjaannya mereka itu. Dunia pun akan menjadi bersih. Setiap orang pun akan lebih bisa bersyukur dengan hidupnya masing-masing.”

16 Komentar

Filed under Life, Love and Laugh

Suara

Pagi masih muda ketika itu, embun belum mengering dari dedaunan. Secangkir kopi yang terletak manis di atas meja kayu itu pun masih mengepulkan asapnya perlahan.

Saat langkahmu perlahan masuk lebih dalam, memasuki pendopo, akan terlihat empat buah tiang penyangganya yang kokoh dan kuat. Tiang-tiang itu berdiri tegak menjadi soko guru. Perlambang penentu arah mata angin. Dari empat soko guru tersebut, bila kau perhatikan benar, akan kau temukan tumpang sari tersusun terbalik, tersangga soko guru.

Saat kedua matamu menyapu, saat itulah akan kau temui ia. Lelaki yang selama ini kau cari. Di tangannya, telah tergenggam kuas kecil yang siap ia gunakan untuk kanvas yang menunggu sapuan warna semesta darinya.

Setiap pagi, seperti yang sudah biasa ia lakukan, ia akan pergi ke dalam omah njero, ruangan terdalam di rumahnya, dan mencoba melukiskan apa yang malam sebelumnya telah ia pikirkan dalam benaknya. Pada saat pagi seperti itu, sang seniman itu akan dengan leluasa membahasakan isi pikirannya.

Kuas-kuas lain yang telah ia rapikan di bawah kanvas itu nantinya akan bergantian ia tukar.  Dengan lihai, ia akan memadu-padankan warna-warna cat pilihannya. Pelan dan perlahan, bila kau sempat memerhatikan, akan kau lihat kembali kanvas yang awalnya kosong itu, hingga menjadi sebuah mahakarya. Sesuatu yang luar biasa, muncul dari ketiadaan.

Terkadang sapuannya tegas, kuatnya goresan kuas, warna-warna cerah menjadi satu dalam kanvasnya, sesekali terkadang ia sendiri mengharamkan warna hitam menjadi dominan di dalam lukisannya, karena dianggap bukan bagian dari cahaya, komposisinya terbuka, sembari berusaha memberi penekanan pada kualitas pencahayaan yang akan didapati penikmat lukisannya. Ia, sang seniman itu, selalu suka dengan subjek-subjek lukisan yang tidak terlalu menonjol, ia mengambil sudut pandang yang tidak biasa.

Namun, bila kau mau lebih dekat mengenalinya, akan kau temukan juga lukisan-lukisan lainnya. Ia terlalu senang mengeksplorasi dirinya sendiri. Pelan-pelan saja. Jangan berusaha mencari-cari perbedaan dari setiap lukisannya, karena itu justru akan membebanimu. Tapi, percayalah, sesekali ia juga selalu berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan, segera setelah inspirasi memenuhi benaknya, ia akan mengolah setiap bagian tertentu dari objek yang ada dalam pikirannya itu untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya. Seperti Salvador Dali, salah satu pelukis pujaannya.

Tapi, tak usah khawatir, meski kau lihat pengaruh-pengaruh pelukis hebat dunia. Jiwanya, batinnya, masih selalu mengakar kuat. Dalam dirinya, menjadi orang Jawa adalah takdir yang menyenangkannya. Di dalam pendopo miliknya, ia bisa menuliskan baik-buruk, benar-salah, lelaki-wanita, langit-bumi, dalam goresan-goresan kuas yang berguna menjadi penanya itu.

Cerita-cerita tentang wayang-wayang selalu menarik perhatiannya. Gores Sengkuni saat mengkhianati keluarganya, gores kecewa Drupadi saat kehormatannya terenggut, gores gagahnya Arjuna, dan gores amarah dan murka Bima. Sebagian darinya bisa kau temukan dengan mudah di galerinya.

Cobalah tengok. Satu saja. Lukisan. Yang ada di salah satu sudut pendoponya. Yang ajeg dan tersimpan penuh digdaya di dalam rumahnya. Tentu akan bisa kau lihat salah satunya bercerita pada dirimu.

Diam. Ambil jeda. Sebentar saja, dan biarkan suara-suara itu menghampirimu.

“Siapa, oh, sesungguhnya siapa yang telah berani menghinaku? Merenggut kehormatanku? Apa tak ada sedikit pun dari kalian yang mau bicara? Bertahun-tahun aku menjadi abdi, menjadi istri dari lelaki paling bijaksana, tapi mengapa pada satu masa aku kehilangan semuanya?”

“Entah sampai kapan aku akan terus diceritakan sebagai yang terenggut kehormatannya? Yang tak berdaya di bawah perjudian yang penuh tipu daya sejak awalnya. Entah oleh siapa lagi aku akan mendapati ceritaku dituliskan dalam cerita yang sama.  Kakandaku, lelaki yang kuabdikan hidupku seutuhnya, mengapa tak ada sedikit pun membelaku? Malukah ia? Tak ada sedikitkah ada dalam pikirannya keinginan untuk menghalangi lawan-lawan liciknya, yang tidak lain adalah masih saudaranya itu? Tak ibakah ia?”

“Yang kuingat hanyalah Bima. Wajahnya merah.  Menahan rasa malu dan murka atas apa yang terjadi padaku, kakak iparnya. Kulihat tangan bajanya sudah terkepal sempurna, siap menempeleng siapa pun yang berani menghinakan aku dan kakak kandungnya, Yudhistira. Tapi, apa daya, Yudhistira memintanya untuk tak melakukan apa-apa. Ah, sungguh sayang. Nasi masak periuk pecah. Tak baik jika aku mengungkitnya lagi. Tak pantas.”

“Tapi.. tapi.. sungguh aku kesal dan tak juga bisa menahan amarah. Dursasana sialan. Beraninya ia mengambil kain yang menjadi bagian dari kehormatanku. Dan juga menyengaja membuat rambut yang kutata sempurna untuk suamiku hingga tergerai tak lagi seperti sebelumnya. Dengarlah baik-baik dan ingat ini. Betapa ia memintaku melayaninya. Masih teringat jelas caranya bicaraku saat itu. Layani aku! Kau budakku. Kau hadiah perjudianku. Sial! Dursasana sialan. Tak akan hilang dendamku padanya. Tak akan hilang sampai kumandikan rambutku dengan darahnya.”

“Ah, bisakah kau bayangkan apa yang terjadi malam itu? Saat setiap lapis kain yang menutupi tubuhku ditarik paksa dan aku tak bisa melawannya, tak boleh melawannya.”

Bagaimana? Dapatkah kau mendengarnya? Sebuah lukisan dengan garis tegas di setiap goresannya. Di sana dapat juga kau lihat dan dengar jeritan Drupadi yang menangis. Sesekali bicaralah. Bicara dengan seniman yang membuatnya. Sesekali bertanya tentu tak akan menjadi dosa yang menjerumuskanmu pada neraka bukan? Karena mungkin saja, kau bisa belajar banyak dari lukisan-lukisannya. Dari bagaimana ia menjadikan ilham yang ia kandung dalam rahim pikirannya itu hingga menjadi nyata.

“Kau menikmatinya?”

Lelaki yang kau kunjungi itu telah bertanya padamu. Apa yang hendak kau jawab?

“Aku masih berusaha. Aku belum tahu bagaimana cara paling sempurna untuk menikmatinya.”

Lelaki yang tangannya kotor karena tak sengaja kurang berhati-hati saat bermain dengan campuran cat pilihannya itu hanya bisa menunjukkan gelak tawanya yang hangat di hadapanmu. “Tak ada rumus atau aturan baku. Lihatlah dengan cara yang kau inginkan sendiri. Namun, ingatlah dengan satu hal. Buatlah jarak terlebih dahulu, jangan tergesa-gesa. Karena lukisan, bukan bahasa yang baku, yang bisa kau pahami seperti saat kau berbincang dengan manusia umumnya. Lukisan punya bahasanya. Dan bahasanya, tak akan bisa kau temukan saat mendekatinya, tapi justru bisa kau temukan saat kau sedikit menjauhinya. Menyimpan jarak yang tepat untuk mendapatkan pesan yang kau ingin dapatkan.”

“Ah, jarak. Tak bisa memaksakan diri untuk paham. Tak usah tergesa-gesa.”

“Iya, sesekali, seorang harus terampil mengambil jeda, membuat jarak antara dirinya dan ruang yang ada di sekitarnya. Karena ruang yang sesak, hanya akan membawa pikiran menjadi sempit. Dan selayaknya pikiran sempit, ia hanya akan mendatangkan kemalangan. Kau tentu tak ingin melakukannya, bukan?”

Masih ingatkah? Pagi masih muda ketika itu, embun belum mengering dari dedaunan. Secangkir kopi yang terletak manis di atas meja kayu itu pun masih mengepulkan asapnya perlahan. Kau berbincang dengannya. Mengambil jeda dari dunia untuk menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang menggenapkanmu hingga menjadi sempurna.

9 Komentar

Filed under Life, Love and Laugh

Identitas

“Sudah mulai bisa memutuskan apa yang hendak Bapak gunakan? Tim kami sudah siap dengan beberapa desain yang tentunya nanti akan kami sesuaikan dengan latar belakang dari visi misi Bapak selanjutnya. Bagaimana? Bapak sudah bisa memilih mana yang cocok?”

Lelaki di depanku itu memberikan satu map berisi pilihan kata yang bisa aku gunakan untuk keperluan pemenanganku selanjutnya. Aku termangu. Memandang satu per satu baris-baris kata itu. Setiap barisnya hanya berisi beberapa kata saja yang memang sangat mudah dipahami siapa pun yang membacanya.

Akan butuh keputusan yang tepat untuk memilih satu baris kata itu saja. Karena setelah kupilih, kata-kata itulah yang nanti akan memperbesar atau mengurangi kesempatan menangku esok hari saat pemilihan.

“Bagaimana bila baris yang pertama saja, Pak?” Laki-laki muda itu menyarankanku. “Bunyinya sangat meyakinkan.”

“Bekerja untuk menyampaikan amanah rakyat.” Aku membaca baris yang ditunjuknya itu. Memang terdengar sangat meyakinkan. Seperti seorang figur masyarakat yang tahu visi dan misinya ke depan. Terlihat punya integritas yang mumpuni.

“Ada juga yang lainnya, yang saya rasa tidak kalah meyakinkan, Bapak mungkin bisa mulai pertimbangkan.” Lelaki itu tersenyum penuh arti, seakan tahu benar apa yang sedang ia utarakan.

Aku melirik baris ketiga. “Berjuang demi kesejahteraan rakyat.” Aku terpana. Mantap sekali apalagi saat aku membacanya.

“Saat orang-orang membacanya, mereka akan tahu bahwa Bapak hadir di tengah-tengah mereka untuk berjuang. Mensejahterakan mereka. Memastikan mereka tidak akan sekalipun kekurangan. Menjamin mereka tidak akan kelaparan. Bapak ada untuk menjadi pelindung mereka.”

Luar biasa. Aku merasa seperti seorang pemimpin yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Barisan kata yang bagus sekali. Ini bisa menjadi pilihan yang bagus. “Ada lagi yang kau bisa sarankan?”

“Tentu saja. Ada banyak yang bisa saya sarankan, Pak. Bukankah memang itu sudah menjadi tugas saya?” Lelaki itu tertawa. “Menurut beberapa materi yang saya dapat dulu. Penggunaan kata yang pendek dan tepat, meskipun hanya satu atau dua kata, bisa sangat kuat meninggalkan kesan, Pak. Dan bila Bapak mau mempertimbangkan yang demikian, Bapak bisa melihat baris terakhir dari yang sudah kami siapkan.”

Baiklah, mari aku lihat apa lagi yang dapat kupertimbangkan sebagai representasi kekuatanku di kancah politik nanti. Kubuka lembaran kedua dari dokumen itu. Ada tiga kata yang tertulis di sana.

“Bersih. Jujur. Tegas.”

Laki-laki muda itu melanjutkan kuliahnya. “Setiap kata akan menjelaskan identitas Bapak. Tiga kata ini akan menguatkan citra Bapak di masyarakat. Dari kata pertama, bersih. Bapak sudah menyimpan kesan dalam benak pemilih nanti bahwa Bapak memang tidak pernah terlibat dengan kasus apa pun yang membuat Bapak dan keluarga malu. Bapak bersih. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Tak bermaksiat dalam hal apa pun. Dari kata yang kedua, ada kata yang sangat kuat sekali, yaitu Jujur. Rakyat mana yang tidak suka dengan pemimpin jujur? Tentu semua suka dan mengharapkan. Orang jujur yang dibutuhkan mereka. Dan barang tentu bukan yang suka menipu dan memanfaatkan rakyat di kemudian harinya. Dengan kata kedua ini, orang-orang tentu akan menjadikan Bapak sebagai prioritas.”

Entah mengapa rasanya aku mudah sekali terhipnotis lelaki itu. Pintar sekali ia bercakap seperti itu. Sudah seperti politikus ulung saja. “Lalu bagaimana dengan kata yang terakhir? Tegas?”

“Nah, kata ketiga pun, tidak kalah bagusnya. Dari kata tegas itu, Bapak sudah memastikan para pemilih tentang bagaimana Bapak ke depannya akan bertindak saat menang dan menjadi pemimpin mereka. Bapak akan tegas, tidak pandang bulu. Yang salah tetaplah akan diberi ganjarannya, yang keliru akan Bapak luruskan. Yang salah akan Bapak pastikan tidak lagi ada. Pemimpin tegas adalah idaman dan dambaan semua orang. Tentu tidak akan kecewa mereka bila calon pemimpin yang mereka pilih memang punya kapasitas seperti itu.”

Aku tak tahu harus memilih yang mana. “Rasanya sulit juga memutuskan satu dari ketiga yang kau sarankan itu.”

“Bapak santai saja. Bapak bisa pilih terlebih dahulu sesuai kehendak Bapak. Kami sudah siap dengan pilihan mana pun yang nanti Bapak putuskan. Tim kami solid dan profesional, Pak. Kami jamin pemenangnya nanti adalah Bapak dan kolega di partai.”

Aku terdiam. Sesuatu mengusik benakku. Dan aku tak bisa menampiknya.

Amanah rakyat menjadi panduan. Amanah rakyat menjadi utama. Mengapa kata-kata itu yang sedari tadi menjadi pikiranku. Pelan-pelan aku dorong map berisi dokumen itu menjauh. Rasanya malah semakin bingung dan terbebani saja dibuatnya. “Boleh saya keluar dulu? Rasanya saya butuh udara segar di luar ruangan.”

“Silakan, Pak.”

Langkahku menjauh dari ruangan tempatku berbincang tadi. Ada perasaan yang tidak nyaman timbul di pikiranku. Tentang semua baris-baris kata yang kubaca. Tentang apa yang sebenarnya tengah aku lakukan. Memikirkan tentang semua kata-kata itu membuatku terdiam. Apa aku sudah memenuhi setiap kualitas yang ada dari kata-kata itu? Apakah aku memang akan berlaku dan menunjukkan sikap yang sama seperti baris janji yang bak puluh perindu itu nanti saat aku mendapatkannya?

Bekerja untuk menyampaikan amanah rakyat. Akankah aku sanggup melakukannya? Aku meragu. Bertahun-tahun yang lalu, saat aku masih sangat muda dan idealis mungkin aku akan tetap percaya dengan itu. Meyakini baris itu. Tapi sekarang? Setelah semuanya? Aku tak cukup yakin. Dunia nyatanya lebih keras dan tak bisa ditaklukkan semudah itu.

Apa yang dibutuhkan rakyat? Apa yang mereka amanahkan padaku? Pendidikan yang murah, akses kesehatan yang mudah, dan kesempatan kerja yang lebih luas. Apakah aku bisa memberikan itu semua? Rasanya tentu berat. Itu semua butuh lebih dari sekedar mimpi di siang bolong. Akan membutuhkan dukungan yang luar biasa. Dan aku tak cukup yakin bisa mewujudkan itu.

Hal yang sama harus juga kupertanyakan pada diriku lagi. Berjuang demi kesejahteraan rakyat? Apa itu sejahtera? Aku pun sepertinya masih mencari makna sebenarnya dari kata itu. Cukupkah seseorang punya semua hal yang ia butuhkan bila ia tidak punya lingkungan yang memberinya kebahagiaan untuk menikmati itu semua? Aku teringat dengan orang-orang di perkampungan yang sudah kulewati sebelumnya. Wajah kesakitan mereka, apa aku mampu mengubahnya? Atau apakah aku justru akan menambahkan kemalangan baru pada mereka? Aku bergidik ngeri. Membayangkan ada wajah-wajah baru yang turun ke jalanan karena ketidak-mampuan memaksa mereka hidup di sana. Sesak sekali rasanya memikirkan itu.

Bersih. Aku tertawa. Rasanya lucu melabeli diriku bersih. Aku bukan orang yang suci, yang tidak pernah berbuat cela. Sudah kubohongi rakyat, kubohongi juga diriku sendiri bila aku berani menyatakan diriku begitu. Seperti tengah menyimpan kotoran di depan mukaku sendiri.

Lalu sampai di kata jujur, ah, terlebih bila kukatakan itu di dalam reklame dan baligo yang mencetak mukaku. Apa benar aku telah jujur? Tak pernah kusampaikan sesungguhnya keinginanku yang utama kepada rakyat. Bukan untuk membantu mereka aku maju sekarang, melainkan untuk menghisap saripati kekayaan mereka nantinya. Malu aku menyimpan kata itu di tubuhku yang berbalut dengan bendera partai yang mengusungku. Aku tak pernah benar-benar jujur, lalu mengapa aku berani meyakini itu sebagai identitasku?

Tegas. Tegas. Tegas. Sudahkah aku bersikap tegas dengan diriku sendiri? Dengan keyakinanku sendiri? Siapkah aku dengan tegas menerima konsekuensi apa pun di penghujung hariku nanti? Ah, aku tak sanggup. Tidak, aku tak sanggup. Terlalu besar beban yang harus kupikul. Terlalu jelas dosaku bila aku tetap memaksakan semuanya. Baris-baris kata itu tidak pernah benar-benar bisa merepresentasikan aku. Dan baris-baris kata itu juga bukan identitasku. Aku tak berani melabeli aku dengan semua kebohongan itu.

“Sudah mulai bisa memutuskan apa yang hendak Bapak gunakan?” Aku melonjak kaget, tak kusangka lelaki itu akan menyapaku lagi seperti itu.

Di depannya, aku harus memutuskan, aku bisa tetap memilih tinggal dan menjalani kebohongan itu atau meninggalkannya. Pilihan dan konsekuensinya ada di tanganku.

Aku bimbang. Apakah ini jalanku yang utama dan satu-satunya untuk meraih nikmat dunia dan membantu sesama? Aku menggeleng. Bukan ini. Tuhan pasti punya lebih dari satu rencana dan jalan bagi setiap hambanya. Aku akan meninggalkannya.

“Ya, saya sudah memutuskan. Saya tidak lagi butuh jasa Anda. Saya berhenti. Saya tak ingin lagi terlibat.”

“Maksud Bapak?” Lelaki itu gusar.

“Saya tidak lagi berkeinginan menjadi pembohong dan mengkhianati diri saya sendiri. Saya akan berkontribusi dengan cara lain, bukan dengan cara ini. Maaf, saya pamit.”

“Tapi, Pak? Saya ..”

Aku tak lagi peduli dengan apa pun yang diucapkannya. Lekas aku rapihkan barang bawaanku. Aku tak ingin tenggelam dalam kebohongan lagi. Aku akan memilih jalanku. Jalan yang aku tahu bisa kupertanggung jawabkan, di dunia dan di akhirat nanti. Setiap langkahku keluar terasa lebih melegakanku, mungkin memang inilah yang selama ini aku butuhkan untuk diriku.

7 Komentar

Filed under University of Life

Tustel

Semasa kecil dulu, yang teringat ketika pertama kali memegang tustel–atau yang sekarang lebih sering kita sebut kamera–adalah akankah ada satu dari sekian klise yang ada, apakah salah satunya ada yang ‘terbakar’ dan tak bisa dicetak. Perasaan canggung, takut dan khawatir bergabung dengan perasaan yang luar biasa senang. Karena untuk sekedar mengabadikan diri saja susah sekali. Memegang tustel, begitu kita akan menyebutnya hingga akhir. Menjadi satu kebahagiaan yang tidak didapat semua orang. Begitu juga saat mendapati hasil foto setelah sang pencetak bermain dengan klise negatif dari satu roll untuk tustelnya.

Waktu itu, saat aku masih berusia lima tahun, aku masih ingat jelas. Dengan sebuah celana training berwarna abu dan kaos yang nampak besar dari kejauhan, kedua orang tuaku berjalan perlahan keluar rumah, meninggalkanku sendiri bersama semangkuk mie yang masih panas karena baru saja dimasak. Dalam pikiranku saat itu, aku pikir aku tengah ditinggalkan sendiri sementara Ayah dan Ibu mencari kesenangan lain di luar rumah. Nyatanya, setelah mulai bertambah tua dan beranjak dewasa, foto dengan wajah cengeng itu terekam sempurna di sebuah album keluarga.

Aku tak menyangka. Kenangan masa kecil itu menjadi sangat manis setelah bertahun-tahun kemudian aku melihatnya. Tustel merekam itu dalam sebuah klise negatif dan menyimpan momen itu hingga lebih dari 20 tahun lamanya. Aku berdecak kagum memikirkan itu semua. Tak kusangka dengan sebuah tustel saja momen-momen itu bisa menjadi abadi.

Kini setelah Sang Jenderal tidak lagi memerintah dan berganti lebih dari tiga pemimpin setelahnya, banyak sekali yang berubah. Klise negatif sudah mulai banyak ditinggalkan. Tustel-tustel klasik–beberapa orang menamainya, sudah jarang lagi digunakan. Klise-klise negatif dengan roll kecil di dalam tustel sudah berganti dengan memory card dan tustel-tustel itu berganti nama dengan pelbagai nama yang aneh.

Orang-orang tiada lagi merasakan campuran rasa canggung, takut dan khawatir itu bersamaan dengan kesenangan seperti saat masa kecilku dulu. Tidak ada yang takut dengan klise yang akan terbakar. Semua sudah serba digital. Tak suka dengan hasilnya, kau bisa membuang dan membuat yang baru tanpa perlu membeli banyak roll seperti dulu. Tak bisa dan tak tahu bagaimana memakainya di awal? Tak juga menjadi sebuah masalah. Bahkan anak kecil pun boleh berkacak pinggang memakai tustel-tustel baru itu dan menikmati tombol itu dengan mudah. Ada layar kecil di belakang lensa, seperti layar ‘televisi’ mini yang bisa kau lihat saat mulai merekam momen model yang ada di depanmu.

Punya uang lebih banyak? Kau bisa membeli tele-tele dengan ukuran yang cukup panjang, yang bisa membuat apa-apa saja yang hendak kau rekam itu menjadi lebih jelas. Semua orang menjadi pencandu. Segala sesuatu seperti memang sudah semestinya terekam dalam tustel-tustel baru yang digital itu.

Tak berakhir di klise, zaman berubah semakin cepat, klise berganti menjadi digital, dan yang digital semakin mudah diubah sekehendak hatinya. Bahkan yang awalnya berwarna bisa berubah menjadi hitam putih dengan mudah. Kau bisa tambahkan efek apa pun; sesuatu yang awalnya harus kau pelajari lama, kini hanya ada dalam sekali sentuh saja. Hal-hal yang awalnya tiada menarik, seolah menjadi luar biasa menarik. Semua terekam tak lagi dalam tustel-tustel magnifique itu, tapi juga di dalam ponsel-ponsel tipis nan ringan.

Mulai dari pagi hari, dari apa yang hendak kau kenakan, dan sarapan apa yang tersedia di meja makanmu, dan kendaraan apa yang akan mengantarkanmu. Semuanya terekam sempurna. Tak usah menunggu beberapa hari sampai hasil fotomu tercetak, dalam beberapa menit saja, siapa pun saja yang sudah menjadi ‘teman’mu akan bisa melihatnya, memujinya bahkan juga mengomentarinya.

Semua orang menikmatinya. Kamera-kamera di ponsel itu mengganti peran tustel-tustel klasik itu dengan cepat. Mulai dari tukang ojek hingga Ibu Negara, semua menggunakannya. Semua berlomba-lomba berbagi cerita bahagia. Melalui jejak rekam dari satu piring, satu mangkuk, satu cangkir yang berlainan bentuk dan isinya. Semua merasa perlu ‘berbicara’ melalui itu semua, karena setiap orang sudah dan tetap melakukannya.

Mulai dari warung kopi hingga Istana Negara. Mulai dari gadis-gadis di sekolah hingga Ibu paruh baya di usia senja. Mulai dari warung-warung kecil hingga restoran cita rasa Italia, Perancis dan Jepang di sisi-sisi kota. Semua bergantian mengisi ruang kecil di setiap ponsel kita.

Rasa-rasa magnifique itu memudar seiring dengan semakin mudahnya semua itu didapatkan. Mengenal seseorang, menjajaki setiap perbincangan, dan menemukan petualangan-petualangan baru itu terasa tak lagi semenyenangkan sebelumnya. Ambil ponselmu, gerakkan tanganmu ke arah mana saja, dan dalam satu dua menit saja kau bisa melihat hidup seseorang ada di dalamnya. Momen-momen mendebarkan itu menghilang perlahan diganti dengan kesenangan-kesenangan instan yang hanya bertahan instan juga. Getar-getar manis sebuah cerita perlahan memudar seiring usapan jemari bergantian di atas ponsel-ponsel yang kau sentuh.

Semasa kecil dulu. Beberapa puluh tahun yang lalu. Mungkin kau pernah juga merasakannya, mungkin juga tidak. Perasaan canggung, takut dan khawatir bergabung dengan perasaan yang luar biasa senang itu terasa berdebar sangat kencang di dadamu. Karena untuk sekedar melihat dirimu saja bersama teman-teman sebayamu itu dalam sebuah figura-figura kecil di ruang-ruang keluarga di rumahmu itu memang bukanlah suatu yang mudah. Memegang tustel yang harganya sangat mahal itu tak bisa dilakukan semua orang. Dan sudah menjadi satu kebahagiaan bila kau diberi kesempatan meski hanya sekedar memegangnya. Pesona luar biasa itu menghanyutkanmu. Begitu juga saat kau memasuki ruangan untuk mencetak klise negatif itu hingga menemui rupanya yang baru.

Debaran itu mulai hilang, tapi semoga tidak dengan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. Rasa canggung itu tak sepayah dulu, tapi semoga tidak membuat semuanya tak lagi ada artinya. Ah, ini hanya serupa nostalgia, untuk sesuatu yang kau tentu tahu, tak mudah untuk didapatkan lagi. Di saat semua hal telah tersedia di ‘halaman’mu.

13 Komentar

Filed under University of Life