Segenggam Kenangan

Beberapa orang datang menghampiriku. Mereka bertanya mengenai kejadian yang baru saja menimpaku. Di sekitarku terlihat bercak darah yang tersebar di beberapa bagian tubuhku. Kepalaku pusing, tidak tahu harus melakukan apa. Apa yang sebetulnya baru saja terjadi kepadaku?

“Hei, cepat kita pindahkan dulu orang ini dari jalan raya,” kata seseorang. Dengan sigap beberapa warga membopong badanku ke bahu jalan. “Cari ponsel atau dompet atau tanda pengenal yang bisa digunakan untuk mengenali pemuda ini.” Seorang warga mengusulkan.

Sepertinya kedua tangan dan kakiku tidak sepenuhnya bisa aku gerakkan dengan baik. Mati rasa. Untuk sekedar memindahkan tanganku saja rasanya tidak mudah. Mataku sedikit demi sedikit mengabur. Teriakan beberapa warga yang kudengar sebelumnya mendadak terdengar seperti bisikan. Menghilang begitu saja.

Begitu tersadar, aku telah terbangun di rumah sakit. Mataku terasa silau karena warna putih yang memantul dimana-mana. Aku memegangi kepalaku yang terasa berat. Kengerian menggerayangi pemikiranku. Aku tak ingat kenapa aku disini. Aku bahkan tak ingat siapa diriku.

“Ah, mas akhirnya sadar juga.”

Seorang suster menghampiriku dan membetulkan letak bantal yang menjadi sandaran kepalaku.

“Mas sudah pingsan selama kurang lebih dari setengah hari. Malam kemarin beberapa orang mengantar mas ke rumah sakit.”

“Kami sebetulnya ingin menghubungi keluarga Mas. Tapi kami tak tahu harus menghubungi kemana. Mas tidak membawa dompet. Lagipula ponsel Mas rusak. Sepertinya karena kena benturan keras.” Suster itu menjelaskan. “Kami sudah mencoba mengecek kartu SIM di handphone Mas, tapi tak ada nomor handphone yang tertera di sana. Mungkin Mas menyimpan semua nomor kontak di memori ponsel.”

Aku tak sanggup berbicara banyak. Aku memang sudah sadar dan bisa mendengar semua yang diutarakan suster itu. Tapi entah mengapa tak sedikit pun suara bisa aku keluarkan untuk membalas ucapan suster itu. Hanya tatapan kecil yang bisa kuberikan kepadanya.

Suster itu menatapku dengan iba. Sepertinya ia kasihan melihatku yang kebingungan. “Oh iya, ini mungkin bisa membantu Mas mengingat.” Ia mengeluarkan selembar amplop yang bertuliskan ‘Untuk Renata’.

“Ini ditemukan di kantong celana Mas.” Suster itu berkata.

Suster itu kemudian menyimpan selembar amplop itu di atas tanganku. Aku mencoba meraihnya. Tapi tanganku juga masih belum begitu kuat untuk aku gerakkan.

Suster itu diam, menungguku. “Mau saya buka dan bacakan saja suratnya, Mas?”

Aku coba anggukan kepalaku sedikit, tanda aku menyetujui sarannya. Suster itu tersenyum kemudian perlahan membuka amplop itu.

Suster itu membuka lipatan kertas surat dan sedikit terkejut saat beberapa lembar uang seratus ribuan berjatuhan. “Wah, ternyata ada uang yang terselip di sini,” kata suster itu. Ia mulai menghitung lembaran uang tersebut. “Sepuluh lembar.” Semuanya satu juta rupiah. “Ahh, kira-kira kenapa Mas membawa uang sebanyak ini?” Suster itu bertanya sambil memandangiku heran. Tapi aku tak tahu. Aku menggeleng lemah.

“Oh ya, saya belum membacakan isi surat tadi. Mudahan ada petunjuk di dalamnya ya Mas.” Suster itu berkata sambil menggenggam tanganku. Menguatkanku. “Oh, ternyata isi surat ini pendek saja.” Katanya.

Renata, aku siapkan uang yang ada di dalam ini untukmu dan anak yang kini ada di dalam kandunganmu. Jaga baik kondisi kesehatanmu. Aku akan segera pulang.

“Ternyata, Mas punya istri dan anak yang akan lahir,” si suster berkomentar.

“Bagaimana, Mas teringat sesuatu?”

Renata? Istriku? Anakku? Aku diserang berbagai memori yang berhamburan. “Kepalaku… sakit…,” Aku memekik lirih. Suster itu panik melihatku yang merintih kesakitan.

“Dok, tolong!” Teriaknya memanggil dokter. Namun setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Kesadaranku kembali lenyap.

 

Siapakah wanita itu? Mengapa ia menangis lirih seperti itu? Apa yang sedang ia rasakan? Beberapa orang mengelilinginya. Pakaian yang mereka kenakan berwarna putih. Mereka seperti sedang melakukan operasi.

“Mas..”

“Ilham..”

“Mas Ilham..”

“Aku tak tahan, Mas.”

Salah seorang dari mereka menyuntikkan sebuah cairan untuk wanita itu. Ia merintih lagi, namun perlahan ia kembali tenang.

“Andai saja suami dari Ibu Renata sedang ada di sini. Pasti proses persalinan Ibu Renata bisa lebih mudah.”

 

Sementara itu di luar ruangan tempat anaknya yang sedang melahirkan, ibu Renata mulai panik. “Kemana dia?” Hatinya gelisah. “Bukankah Ilham sudah berjanji? Kenapa dia tak kunjung datang?” Mungkin sudah berkali-kali ia menanyakan hal itu pada suaminya yang ada disampingnya.

“Sabarlah, Bu. Ilham pasti menepati janji.”

“Pak, perasaanku tak enak. Mungkin kita harus mencari tahu dimana suami anakmu itu.”

 

“Kondisi saudara tidak akan bisa pulih dengan cepat. Saya takut saudara harus tinggal satu atau dua minggu di sini untuk mendapatkan perawatan. Kami tidak bisa membiarkan saudara seperti sekarang.”

Bisikan dokter di telingaku itu kembali membuat kesadaranku penuh. Terasa berbeda apa yang baru saja kulihat sebelumnya. Renata. Ilham. Kandungan. Dokter. Banyak sekali orang yang tidak aku kenal. Tapi entah mengapa nama Renata dan bayanganku mengenainya tak bisa aku hilangkan. Mungkinkah itu Renata yang ada dalam lembaran amplopku itu?

Sekeping demi sekeping memoriku mulai kembali. Aku mengenal Renata. Aku tahu dia hamil. Tapi.. aku bukan suaminya. Lalu, mengapa aku mengenalnya?

“Mas Diat!” Seorang suster muda tiba-tiba mendekatiku. “Astaga, Mas Diat. Untunglah Mas nggak apa-apa.” Suster itu menghembuskan nafas lega.

“Lila, kamu kenal orang ini?” tanya dokter itu. “Iya, dok. Saya masih sepupu orang ini. Saya kesini karena tadi di kamar mayat saya melihat kakak Diat, Ilham, ada disana. Katanya mayat itu ditemukan bersama seorang pemuda yang sekarat.” Suster bernama Lila itu lalu mengalihkan pandangan padaku. “Mas, sebenarnya ada apa?”

Perlahan. Kabut dalam pikiranku mulai menghilang. Satu per satu kejadian yang aku rasakan sebelum akhirnya aku terbaring lemas di sini mulai menampakkan gambaran utuhnya.

Ya, aku ingat sekarang. Kemarin malam aku dan Ilham memacu motor kami cepat di jalanan yang saat itu menurut kami tidak begitu ramai. Aku sendiri tidak pernah berpikiran buruk dan punya prasangka yang jelek mengenai apa yang akan terjadi setelahnya.

Yang kuingat, ketika aku ingin menyalip beberapa angkutan kota yang berada di depanku. Sebuah mobil menabrak kami dengan keras dari arah belakang dan akhirnya kami terlempar ke bahu jalan.

Aku mulai menyadari kesalahan besar yang kulakukan. Gara-gara kecerobohanku, kakakku tewas. Air mataku mulai menggenangi pelupuk mataku. Dengan terbata-bata, kuceritakan kejadian itu pada Lila. “Aku seharusnya mengantar Kak Ilham pada istrinya. Padahal istrinya akan melahirkan. Ya Tuhan.. apa yang telah kulakukan? Ini semua karena kebodohanku. Kalau saja aku lebih berhati-hati.”

“Mas, apa boleh buat. Semua sudah takdir Yang Diatas. Mas Ilham sudah pergi.” Lila memeluk dan menghiburku. “Saya akan menghubungi orangtua Renata. Mereka pasti cemas. Mungkin Mbak Renata sudah melahirkan.”

“Lila.. aku.. bagaimana caraku meminta maaf pada Renata yang sekarang menjadi janda dan keponakanku yang kini yatim piatu gara-gara aku?!” Air mataku menetes. Aku hanya bisa menggenggam surat dan uang yang ditinggalkan Ilham bersama setumpuk penyesalan.

 

Tulisan Kolaborasi: Teguh Puja dan Jusmalia Oktavia

About these ads

2 Komentar

Filed under Collaboration, University of Life

2 responses to “Segenggam Kenangan

  1. ika safitri

    Mudah2an hanya cerita fiksi. Ga kebayang kalo itu cerita nyata. Salam kenal ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s