Semesta Rasa

by Teguh Puja

Beberapa orang terlihat seperti kebingungan. Rindu tak kuasa menahan rasa ingin tahunya, akhirnya ia berjalan juga menghampiri mereka. Ia bertanya-tanya mengenai alasan mereka berkumpul seperti itu. Salah seorang memberitahukan mengenai perkara yang sedang mereka permasalahkan. Ada sekantong besar keresek hitam yang berisi mayat, ditemukan oleh beberapa anak yang sedang bermain tadi pagi.

Rindu terkejut dan kemudian berlari pulang sembari menahan rasa mual yang mendadak ia rasakan setelah mengetahui perkara mayat itu. Di dalam pikirannya hanya terpikirkan satu nama dan ia harus segera memberitahukannya.

Lambertus terbangun karena ponselnya berdering kencang. Ia masih mengantuk, namun suara ketukan pintu di depan kamarnya tak ayal membuat ia beranjak juga dari ranjangnya. “Ada apa pagi-pagi dia mengetuk pintu kamarku?” gumamnya.

Lambertus berjalan perlahan menuju daun pintu kamarnya. Harus ada alasan yang penting yang harus ia terima sekarang. Tidak ada seorang pun yang berani membangunkannya sepagi ini. Dan ia tentu akan menjadi cukup marah jika ia dibangunkan untuk hal yang sepele.

Dengan nafas yang seakan-akan habis tertelan kegelisahannya. Akhirnya ia sampai juga di tempat yang ia butuhkan. Apakah aku mengganggu tidurnya? Rindu berbicara sendiri dalam benaknya. Sudah cukup lama ia tahu mengenai kebiasaan orang yang akan ia temui sekarang. Lelaki itu tak pernah suka diganggu karena hal yang sepele. Dan Rindu mulai merasa tak yakin untuk melanjutkan niatnya.

Dengan segenap keberanian. Ia mengetuk daun pintu yang ada di depannya.

“Ini masih sangat pagi,” teriak Lambertus kepada orang yang berada di balik pintu kamarnya itu. “Haruskah aku bukakan pintunya sekarang? Ada masalah apa?”

Rindu kebingungan. Ia tak kuasa berkata apa-apa. Ia takut membuat lelaki yang akan ia temui itu marah. Sudah jelas ia mengganggu waktu istirahatnya. Kakinya ia langkahkan ke belakang, biar saja kegelisahannya karena mayat tadi itu ia simpan terlebih dahulu, ia mempertimbangkan langkah kakinya. Haruskah ia mulai berbicara mengenai alasan ia mendatanginya atau ia mundur saja? Rindu gundah.

Lambertus kembali mengulang teriakannya. “Haruskah aku bukakan pintunya sekarang?”

Lambertus tahu berteriak bukanlah cara yang santun untuk bertanya mengenai sosok tamu yang berada di balik daun pintunya. Tapi ia juga jelas merasa terganggu, ia tidak ingin mengeluarkan energi lebih untuk membuka pintu dan menghadapi orang yang tidak sepenuhnya membutuhkannya sepagi ini.

Rindu kemudian memegang gagang pintu yang sedari tadi ia ketuk. “Boleh aku masuk? Ini aku Rindu.”

“Apa keperluanmu sekarang? Aku sedang malas bertemu dengan siapa pun sepagi ini. Aku masih sangat kelelahan karena bekerja lembur kemarin malam.”

“Ada sesuatu yang ingin aku utarakan. Boleh aku masuk dan mendengar tanggapanmu untuk ceritaku pagi ini? Aku sedang benar-benar gelisah.” Rindu kemudian mengutarakan alasannya ia datang. Terdengar lirih, gabungan dari rasa takut dan juga gelisah yang melebur bersamaan.

Lambertus mendengarkan baik-baik dan akhirnya ia memutuskan. “Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan segera buka pintunya. Tunggu saja di depan, aku ganti baju terlebih dulu.”

Rindu menggangguk setelah mendengar balasan yang ia terima dari balik pintu tempat ia berdiri sekarang. “Baiklah. Aku tunggu di depan. Jangan terlalu lama.”

Sesungguhnya ia tak begitu yakin itu alasan sebenarnya yang membuat perempuan itu datang ke rumahnya sepagi ini. Pasti ada alasan lain yang membawanya kemari. Lambertus segera mengganti baju tidurnya dengan baju lain yang lebih casual dan lebih nyaman ia pakai sekarang. Tak lupa ia bilas rambutnya yang masih acak-acakan, ia basuh juga wajahnya agar tidak begitu terlihat kusut saat ia harus menemui perempuan di balik pintu kamarnya.

Rindu kembali mengingat-ingat ucapan salah seorang pemuda yang ia temui tadi pagi. “Tadi pagi, beberapa anak yang sedang bermain di sekitar sungai itu tak sengaja menemukan mayat yang ada di dalam sebuah keresek hitam besar. Awalnya mereka mengira itu hanya sampah yang biasa dibuang warga di samping sungai. Tapi setelah mereka mendekat, bau busuk tercium lebih kuat di hidung mereka. Mereka pun segera membuka isi dari keresek hitam itu dan kemudian terkaget-kaget sampai ada yang terkencing-kencing karena takut. Mereka lari dan kemudian memanggil kami untuk melihat ke tempat kejadian.”

Rindu menelan ludahnya sendiri karena merasa takut dan khawatir sedemikian rupa. Ia tidak membayangkan kejadian mutilasi dan pembuangan mayat manusia seperti yang ia temukan pagi ini harus ia rasakan sendiri langsung. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya ada orang yang tega mengambil ruh kehidupan orang lain seperti yang ia hadapi pagi ini. Ia bersemuka dengan ketakutannya yang menjadi nyata. Beberapa kali menonton tayangan berita mengenainya saja sudah membuatnya mual dan muntah terus-menerus karena bayangan gila yang memenuhi rongga otaknya; imajinasinya berkelebat liar dalam benaknya. Ia mual lagi menahan kegilaan ini.

Lambertus selesai dengan persiapan kecilnya. Ia kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Disapanya perempuan yang sedari tadi menunggu kehadirannya. Rona wajahnya tak terlihat baik. Ada apa ya? Gumamnya dalam hati. “Sudah lama menunggu?”

“Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggu lama.” Suara Rindu terasa getir. Ia seperti hendak menangis.

“Maafkan aku kalau memang sudah membuatmu menunggu.” Lambertus memohon izin sebentar untuk mengambilkan perempuan itu secangkir teh. Perempuan itu mengangguk.

Hanya membutuhkan beberapa menit pendek yang Lambertus perlukan sampai akhirnya ia kembali duduk di hadapan perempuan yang menunggunya itu.

“Ada yang ingin aku ceritakan.” Rindu memulai ceritanya dengan terbata-bata. Dan lelaki di depannya hanya bisa diam sembari mendengarkan cerita Rindu sampai tuntas.

Lambertus menyodorkan secangkir teh yang baru saja ia buat. Rindu mencicipinya perlahan. Lambertus meminta perempuan itu mendekat. Rindu perlahan bergeser dari tempat duduknya. Dalam benaknya, Lambertus tahu hanya dengan duduk bersisian dengan perempuan itu, Lambertus akan tahu apa yang perempuan itu inginkan. Rindu masih bercerita, merangkai satu per satu huruf dan menjadikannya satu cerita utuh. Lambertus menggangguk, ia mulai mengerti. Lengkung bibir Lambertus membentuk sabit manis, bibirnya membentuk senyum. Rindu tersenyum mendengar bisikan dari lelaki yang ada di sampingnya. Kini ia sudah kembali tenang.

“Aku lupa kalau ini adalah hari Ulang Tahunku, Diez. Terima kasih ya kamu sudah datang sepagi ini untuk memberikanku hadiah.” Lambertus melayangkan sebuah ciuman manis di bibir mungilnya Adiez; kekasihnya.

Rindu tersenyum mendengar bisikan kecil yang menguatkannya, dari Reza, suaminya. Sebuah pelukan ia dapatkan dari lelaki di sampingnya itu. Ya, dengan cara seperti itulah Reza kembali membuat Rindu menjadi tenang dan tak gelisah karena kejadian yang bersemuka dengannya pagi ini.

Embun pagi di luar kedua rumah tempat para pecinta itu menetes pelan, jatuh ia perlahan dari daun yang semalaman menahannya. Bahkan dalam kekhawatiran berlebih umat manusia di alam semesta ini, selalu saja ada cinta dan limpahan kasih dalam ciuman dan pelukan mereka yang tulus mencinta.

About these ads