Semesta Rasa

Beberapa orang terlihat seperti kebingungan. Rindu tak kuasa menahan rasa ingin tahunya, akhirnya ia berjalan juga menghampiri mereka. Ia bertanya-tanya mengenai alasan mereka berkumpul seperti itu. Salah seorang memberitahukan mengenai perkara yang sedang mereka permasalahkan. Ada sekantong besar keresek hitam yang berisi mayat, ditemukan oleh beberapa anak yang sedang bermain tadi pagi.

Rindu terkejut dan kemudian berlari pulang sembari menahan rasa mual yang mendadak ia rasakan setelah mengetahui perkara mayat itu. Di dalam pikirannya hanya terpikirkan satu nama dan ia harus segera memberitahukannya.

Lambertus terbangun karena ponselnya berdering kencang. Ia masih mengantuk, namun suara ketukan pintu di depan kamarnya tak ayal membuat ia beranjak juga dari ranjangnya. “Ada apa pagi-pagi dia mengetuk pintu kamarku?” gumamnya.

Lambertus berjalan perlahan menuju daun pintu kamarnya. Harus ada alasan yang penting yang harus ia terima sekarang. Tidak ada seorang pun yang berani membangunkannya sepagi ini. Dan ia tentu akan menjadi cukup marah jika ia dibangunkan untuk hal yang sepele.

Dengan nafas yang seakan-akan habis tertelan kegelisahannya. Akhirnya ia sampai juga di tempat yang ia butuhkan. Apakah aku mengganggu tidurnya? Rindu berbicara sendiri dalam benaknya. Sudah cukup lama ia tahu mengenai kebiasaan orang yang akan ia temui sekarang. Lelaki itu tak pernah suka diganggu karena hal yang sepele. Dan Rindu mulai merasa tak yakin untuk melanjutkan niatnya.

Dengan segenap keberanian. Ia mengetuk daun pintu yang ada di depannya.

“Ini masih sangat pagi,” teriak Lambertus kepada orang yang berada di balik pintu kamarnya itu. “Haruskah aku bukakan pintunya sekarang? Ada masalah apa?”

Rindu kebingungan. Ia tak kuasa berkata apa-apa. Ia takut membuat lelaki yang akan ia temui itu marah. Sudah jelas ia mengganggu waktu istirahatnya. Kakinya ia langkahkan ke belakang, biar saja kegelisahannya karena mayat tadi itu ia simpan terlebih dahulu, ia mempertimbangkan langkah kakinya. Haruskah ia mulai berbicara mengenai alasan ia mendatanginya atau ia mundur saja? Rindu gundah.

Lambertus kembali mengulang teriakannya. “Haruskah aku bukakan pintunya sekarang?”

Lambertus tahu berteriak bukanlah cara yang santun untuk bertanya mengenai sosok tamu yang berada di balik daun pintunya. Tapi ia juga jelas merasa terganggu, ia tidak ingin mengeluarkan energi lebih untuk membuka pintu dan menghadapi orang yang tidak sepenuhnya membutuhkannya sepagi ini.

Rindu kemudian memegang gagang pintu yang sedari tadi ia ketuk. “Boleh aku masuk? Ini aku Rindu.”

“Apa keperluanmu sekarang? Aku sedang malas bertemu dengan siapa pun sepagi ini. Aku masih sangat kelelahan karena bekerja lembur kemarin malam.”

“Ada sesuatu yang ingin aku utarakan. Boleh aku masuk dan mendengar tanggapanmu untuk ceritaku pagi ini? Aku sedang benar-benar gelisah.” Rindu kemudian mengutarakan alasannya ia datang. Terdengar lirih, gabungan dari rasa takut dan juga gelisah yang melebur bersamaan.

Lambertus mendengarkan baik-baik dan akhirnya ia memutuskan. “Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan segera buka pintunya. Tunggu saja di depan, aku ganti baju terlebih dulu.”

Rindu menggangguk setelah mendengar balasan yang ia terima dari balik pintu tempat ia berdiri sekarang. “Baiklah. Aku tunggu di depan. Jangan terlalu lama.”

Sesungguhnya ia tak begitu yakin itu alasan sebenarnya yang membuat perempuan itu datang ke rumahnya sepagi ini. Pasti ada alasan lain yang membawanya kemari. Lambertus segera mengganti baju tidurnya dengan baju lain yang lebih casual dan lebih nyaman ia pakai sekarang. Tak lupa ia bilas rambutnya yang masih acak-acakan, ia basuh juga wajahnya agar tidak begitu terlihat kusut saat ia harus menemui perempuan di balik pintu kamarnya.

Rindu kembali mengingat-ingat ucapan salah seorang pemuda yang ia temui tadi pagi. “Tadi pagi, beberapa anak yang sedang bermain di sekitar sungai itu tak sengaja menemukan mayat yang ada di dalam sebuah keresek hitam besar. Awalnya mereka mengira itu hanya sampah yang biasa dibuang warga di samping sungai. Tapi setelah mereka mendekat, bau busuk tercium lebih kuat di hidung mereka. Mereka pun segera membuka isi dari keresek hitam itu dan kemudian terkaget-kaget sampai ada yang terkencing-kencing karena takut. Mereka lari dan kemudian memanggil kami untuk melihat ke tempat kejadian.”

Rindu menelan ludahnya sendiri karena merasa takut dan khawatir sedemikian rupa. Ia tidak membayangkan kejadian mutilasi dan pembuangan mayat manusia seperti yang ia temukan pagi ini harus ia rasakan sendiri langsung. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya ada orang yang tega mengambil ruh kehidupan orang lain seperti yang ia hadapi pagi ini. Ia bersemuka dengan ketakutannya yang menjadi nyata. Beberapa kali menonton tayangan berita mengenainya saja sudah membuatnya mual dan muntah terus-menerus karena bayangan gila yang memenuhi rongga otaknya; imajinasinya berkelebat liar dalam benaknya. Ia mual lagi menahan kegilaan ini.

Lambertus selesai dengan persiapan kecilnya. Ia kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Disapanya perempuan yang sedari tadi menunggu kehadirannya. Rona wajahnya tak terlihat baik. Ada apa ya? Gumamnya dalam hati. “Sudah lama menunggu?”

“Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggu lama.” Suara Rindu terasa getir. Ia seperti hendak menangis.

“Maafkan aku kalau memang sudah membuatmu menunggu.” Lambertus memohon izin sebentar untuk mengambilkan perempuan itu secangkir teh. Perempuan itu mengangguk.

Hanya membutuhkan beberapa menit pendek yang Lambertus perlukan sampai akhirnya ia kembali duduk di hadapan perempuan yang menunggunya itu.

“Ada yang ingin aku ceritakan.” Rindu memulai ceritanya dengan terbata-bata. Dan lelaki di depannya hanya bisa diam sembari mendengarkan cerita Rindu sampai tuntas.

Lambertus menyodorkan secangkir teh yang baru saja ia buat. Rindu mencicipinya perlahan. Lambertus meminta perempuan itu mendekat. Rindu perlahan bergeser dari tempat duduknya. Dalam benaknya, Lambertus tahu hanya dengan duduk bersisian dengan perempuan itu, Lambertus akan tahu apa yang perempuan itu inginkan. Rindu masih bercerita, merangkai satu per satu huruf dan menjadikannya satu cerita utuh. Lambertus menggangguk, ia mulai mengerti. Lengkung bibir Lambertus membentuk sabit manis, bibirnya membentuk senyum. Rindu tersenyum mendengar bisikan dari lelaki yang ada di sampingnya. Kini ia sudah kembali tenang.

“Aku lupa kalau ini adalah hari Ulang Tahunku, Diez. Terima kasih ya kamu sudah datang sepagi ini untuk memberikanku hadiah.” Lambertus melayangkan sebuah ciuman manis di bibir mungilnya Adiez; kekasihnya.

Rindu tersenyum mendengar bisikan kecil yang menguatkannya, dari Reza, suaminya. Sebuah pelukan ia dapatkan dari lelaki di sampingnya itu. Ya, dengan cara seperti itulah Reza kembali membuat Rindu menjadi tenang dan tak gelisah karena kejadian yang bersemuka dengannya pagi ini.

Embun pagi di luar kedua rumah tempat para pecinta itu menetes pelan, jatuh ia perlahan dari daun yang semalaman menahannya. Bahkan dalam kekhawatiran berlebih umat manusia di alam semesta ini, selalu saja ada cinta dan limpahan kasih dalam ciuman dan pelukan mereka yang tulus mencinta.

About these ads

31 Komentar

Filed under #WriterChallenge, Life, Love and Laugh, University of Life

31 responses to “Semesta Rasa

  1. Wah, terima kasih banyak, Mas Teguh. :D Rasanya sesuatu bgt pakai nama saya. hehehe.

    Selesai baca cerpen ini berasa surprise bgt. Saya jadi ingat video klip lagu Jika nya Melly Goeslaw sama Ari Lasso.

  2. Sempat bingung dan mikir juga saya baca ini….ngeloading dulu….-__-”

  3. agak bingung sama ending nya kang….. kayanya butuh penghayatan lebih nih

  4. hemm… bagus bagus. *masih terbengong2 ada nama saya disitu*
    ahaha…

    awalnya oke, rindu dan lambertus. lahh. kok terusan ke belakang ada adiez dan reza yahh.
    sebentar~ *loding*
    jadi rindu itu adiez, dan lambertus itu reza? gitu yak?
    terus hasiah yg dimaksud reza itu apa ya maksudnya kak? itu kasus? apa kedatangan si rindu?

    duh, ini anak banyak tanya, maapp ya kak. hehe…

    • Hihi. Bukan bukan. They stand for their own characterization, Each of them are different. Coba baca lagi, cerita ini jelas punya kemasan cerita yang berbeda. Jangan dibaca langsung. Ambil jeda. :P

      • aaakk! baru ngeh. hihihi… keren kak, bikin mikir.
        jadi pengen koprol kan kalo gini. #apadeh

        tapi paragraf ini rancu nggak sih kak:
        “Lambertus menyodorkan secangkir teh yang baru saja ia buat. Rindu mencicipinya perlahan. Lambertus meminta perempuan itu mendekat. Rindu perlahan bergeser dari tempat duduknya. Dalam benaknya, Lambertus tahu hanya dengan duduk bersisian dengan perempuan itu, Lambertus akan tahu apa yang perempuan itu inginkan. Rindu masih bercerita, merangkai satu per satu huruf dan menjadikannya satu cerita utuh. Lambertus menggangguk, ia mulai mengerti. Lengkung bibir Lambertus membentuk sabit manis, bibirnya membentuk senyum. Rindu tersenyum mendengar bisikan dari lelaki yang ada di sampingnya. Kini ia sudah kembali tenang.”

        2 kejadian yang berada di setting yang sama sekali berbeda dimasukkan dalam satu paragraf. bukannya satu paragraf itu satu pokok pikiran ya? kalo tempat dan orangnya saja berbeda bukankah agak rancu ya?

        tapi apa emang dibuat gitu biar menipu? :/

      • Hihi. Justru puncak plot dan klimaks-nya dibangun di bagian yang itu. :D

        Itu memang di sengaja dibuat seperti itu. Dibuat biar ‘tipuan’-nya tidak langsung terlihat. :D

  5. tunggu mas… ini rindunya selingkuh kan… :?
    jangan2 malah yang dimutilasi itu reza. dibunuh sama di rindu. :?
    eh itu sih menurut ‘kecurigaan’ saya.

    • Hihi. Coba baca perlahan. Ada dua sudut pandang disini. Terwakilkan dari karakter ‘Rindu’ dan ‘Lambertus’. Kecurigaan kamu sesungguhnya kurang tepat. :D

      Coba baca lagi, kalau kamu sudah ngeh dengan ceritanya, kamu pasti ngerti alur ceritanya. :P

  6. Bukan lagunya. videoklipnya yg judulnya Jika.

    kalo g salah, ini aslinya ada 2 kejadian yg beda kan? tapi sepotong-sepotong digabung jadi seperti satu. menipu di awal nih. kreatif.

    • Iya, nanti dicoba dilihat video klipnya. Penasaran. :D

      Betul, ada dua kejadian dalam satu cerita, dan mereka berbentuk potongan-potongan cerita dengan deskripsinya sendiri-sendiri. Glad that you are capable to find the plot. :D

  7. Oh, i got it… Ahahaha… menipu sekali ini…. Menipu dan keren. :D

    Dari awal memang saya udah agak bingung dengan lompatan-lompatan paragrafnya yang bergantian menceritakan Rindu dan Lambertus. Ada keterkaitan sih, tp ga tahu knp saya merasa semacam agak menjanggal. ternyata saya baru nangkap maksudnya di beberapa paragraf akhir.
    Itu makanya ya, nama Adiez dan Reza selalu digantikan dengan kata ganti org ketiga setelah nama Lambertus atau Rindu disebut-sebut. Bener-bener terselubung nih. :D

    Ah, kak…sedikit koreksi boleh? Di kalimat ini : Sesungguhnya ia tak begitu yakin itu alasan sebenarnya yang membuat perempuan itu datang ke “rumahku” sepagi ini.

    Aku rasa, ‘rumahku’ itu harusnya ‘rumahnya’ kan ya, Kak?

    Oke, itu aja Kak. Ini pertama kalinya saya mampir ke sini dan maafkan saya kalau saya sangat cerewet. :P

    • Thanks ya Shirae. Untuk koreksi kecil di bagian ceritanya. Keren! Senang kamu bisa langsung bercuriga dan akhirnya mencari tahu sendiri alur dan jalan ceritanya. :D

      Cerita terselubung, dengan maksud terselubung juga. :P

      Jangan kapok untuk berkunjung kembali ya. ;)

  8. Reblogged this on L.A.M.B.E.R.T.O.E.S and commented:
    Terima kasih untuk blogger Teguh Puja yang sudah menulis fiksi pendek dengan nama saya. :mrgreen: Selamat membaca!

  9. Dua buah cerita dalam sekali baca. Situasi serupa, kejadian yang hampir mirip. Hmm..speechless.. Keren! Saya harus belajar banyak nih :)

  10. Setelah 2 x baca akhirnya sadar oleh kalimat ini “Embun pagi di luar kedua rumah”

    Ternyata eh ternyata… beda :D

  11. Stany Cecilia

    Setelah baca beberapa kali baru ngerti maksudnya.
    Ini dua cerita berbeda dengan setting yg beda juga kan?
    Ckckck. Keren!

    • Setelah beberapa kali mendapat komentar yang sama. Dengan bangga aku ucapkan: Selamat! Hihi. Akhirnya selesai baca dan juga paham ceritanya.

      Iya, dua cerita berbeda, settingnya juga berbeda, tapi jadi satu. ;)

  12. Keren mas teguh…
    Pertama baca bingung.Setelah baca 2 kali baru ngeh..
    Keren mas teguh…

  13. Yup, I see. Adegan2 sperti ini bnyk kita jumpai di film2, saya suka, keren, susah lho bikin yg kyk gitu, cm kalo boleh saran sih, pesannya kurang dapet, itu aja sih… konsepnya keren.. cuma ceritanya buat saya masih terlalu lazim.. hehehe

    • Dan agak ribet memang, terakhir menulis ini di tengah-tengah perjalanan ke Sukabumi dari Bandung. Jadi agak lumayan kurang fokus. Ending-nya cenderung kurang memuaskan. Hihi.

      Makasih Mas sudah berkenan membaca. Menunggu tulisan yang serupa, dan dari versi mas. :D

  14. Ping-balik: Perkara Waktu | Kata-Kata Dicta

  15. Ping-balik: [Coretan Dicta] Poetica’s Journal : PR-nya Sudah Selesai Belum? | Kata-Kata Dicta

  16. perlu baca dua kali untuk memahami ceritanya sampai utuh :’) aku baru pertama kali nih mas baca cerita yang seperti ini. pernah ada cerita tere liye tapi berbeda paragraf, tidak seperti cerita ini yang dua sudut pandang dalam satu cerita. awesome!

    • Memang perlu cukup lebih dari sekali untuk memahami konsep cerita yang ada di tulisan ini. Dan, selamat Uni! Senangnya kamu bisa mendapat poin utama cerita yang tertuliskan di sini. ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s