Menghapus Sepi

Lampu-lampu jalan perlahan menyinari jalanan yang lengang. Matahari telah jauh tenggelam, meninggalkan aku seorang diri di sini, masih menunggumu. Seperti pendar cahaya yang kini mengelilingi lampu jalanan di sekitarku; terasa syahdu, mengiringi peralihan masa dari senja menjadi petang. Aku masih duduk sendiri di sini, masih mengharapkan sesuatu darimu.

Masihkah kamu ingat tempat duduk ini, saat pertama kali kami bertemu. Ini sudah rokok keempat yang kuhisap, menunggumu.

Sudah banyak sekali pasangan yang berganti. Kursi-kursi yang sebelumnya terisi itu akhirnya kembali kosong lagi. Mereka datang, menetap, lalu pergi. Sepertimu juga, kamu menghampiriku, berdiam bersamaku untuk sejenak, dan kini meninggalkanku sendiri di sini.

Aku mulai bersahabat dengan sepi.

Sepi yang menjadi ruang untuk merindu. Mengapa datang jika memang harus pergi. Malam semakin larut, aku masih ingat betapa kamu menyukai suara malam. Derik jangkrik, angin malam, nyanyian malam, begitu katamu.

Banyak hal yang sudah berubah katamu dulu. Tak lagi bisa kau temukan bahagia dari sekitarmu. Hanya benci dan kecewa yang kemudian datang tanpa permisi. Bodohnya kau tetap saja memilih menikmatinya sendiri. Tanpa siapa pun yang menopang rasa sakit di atas kepincanganmu.

Pendar lampu jalanan itu mengingatkanku tentang rapuhnya keyakinanmu. Mungkin memang benar katamu, bahkan cahaya purnama saja tak mampu menerangi seluruh bumi di malam hari. Beberapa tempat tetap saja gelap tak mendapatkan cahayanya sedikit pun. Wajar jika akhirnya kamu pergi. Karena keraguan kembali menggerogoti yakinmu.

Aku memang harus pergi, membawa serta luka ini. Selama ini aku bertahan karena kepercayaanmu. Dengan hilang rasa percaya yang ada dalam dirimu maka tidak dapat kutemukan satu alasan mengapa aku harus tetap tinggal di sini. Kamu terlalu indah untuk menanggung kekecewaan ini. Orang-orang selalu datang dan pergi, melampiaskan keluh kesahnya pada sang kursi. Kursi yang kau duduki sekarang telah menyimpan kenangan masa lalu orang-orang yang mendudukinya.

Bukan aku menghindar, bukan juga aku lari dari yakinku. Tapi ada saatnya ketika aku harus melangkahkan kaki, tanpa berusaha melihat ke belakang. Tak mudah memang, tapi itu jelas cara terbaik yang bisa aku lakukan untuk menuntaskan rasa sakit ini.

Kembali aku duduk sendiri di sini, menikmati semilir angin yang sedang bernyanyi entah sekedar bergumam, merasakan kepedihanku. Sakit yang tak kunjung sembuh. Bilur luka semakin menyebar ke seluruh tubuh tak bisa kuhentikan. Entah sudah berapa puntung rokok yang kubuang sembarang. Walau masih terngiang. “Jangan buang puntung sembarangan akh,” omelanmu. Lagipula hanya ada aku dan malam yang menemani.

Lampu-lampu jalan perlahan menyinari jalanan yang lengang. Matahari telah jauh tenggelam, meninggalkan aku seorang diri di sini, masih menunggumu.

Seperti pendar cahaya yang selama ini mengelilingi lampu jalanan di sekitarku; yang selalu saja terasa pilu, mengiringi peralihan masa dari senja menjadi petang.

Aku masih duduk sendiri di sini, masih mengharapkan sesuatu darimu. Berharap hadirmu menggenapkan aku; menghapus sepiku.

 

Tulisan Kolaborasi: Teguh Puja Dan Evaliana

About these ads

5 Komentar

Filed under #WriterChallenge

5 responses to “Menghapus Sepi

  1. Stany Cecilia

    “Berharap hadirmu
    menggenapkan aku; menghapus sepiku.” Sedih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s