Ketika Prasangkamu Bersemuka dengan Semesta
by Teguh Puja
Apa yang terjadi ketika semesta membaca keluhan dan kebencianmu tentang hari? Apakah semesta menghindarkanmu dari kesialan dan musibahmu itu atau apakah semesta justru membuatmu menjadi jatuh terperosok dengan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan?
Ada satu hal yang saya pikirkan dari kemarin, tentang konsep ‘memberi kabar’ dengan ‘doa’. Bagaimana saya menjabarkannya?
Pertama-tama, pernahkah kita utarakan kekesalan kita lalu setelah itu kita ungkapkan itu kepada orang lain?
Dengan kondisi kita sekarang yang setiap harinya tersambung dengan internet dan juga penuh dengan kegiatan di beberapa social media, tidak jarang kita temukan banyak sekali bentuk keluhan dan kebencian yang secara terang-terangan diungkapkan, tanpa penyesalan, tanpa memikirkan apa dampak yang mungkin terjadi ketika keluhan dan kebencian itu sudah menjadi milik publik (public opinion).
Kedua, pernahkah kamu berpikir betapa ‘kabar’ yang kamu sampaikan, secara tidak langsung menjadi satu bentuk ‘prasangka’ yang akhirnya diamini oleh orang lain, dan nantinya, disadari atau tidak, berbuah menjadi ‘doa’.
Jika kali ini saya mengatakan bahwa saya membenci sikap seseorang berdasarkan apa yang sudah ia perbuat, lalu mengabarkannya (mengungkapkannya) di social media, lalu yang terjadi adalah kondisi seperti ini. Kabar yang kita sampaikan akan menjadi milik publik, dan orang-orang yang tahu, sedikit-tahu dan sepenuhnya-tidak-tahu pun akhirnya akan ramai berkomentar dan datang dengan ‘prasangka’-nya masing-masing. Beruntung jika komentar yang disampaikan berdasarkan ‘prasangka’ yang baik, tapi bagaimana jika sebaliknya.
Awalnya mungkin kita merasa membutuhkan dukungan dengan mengabarkan keluhan dan kebencian itu, tapi bagaimana jika yang datang dan kita terima ternyata komentar yang datang dari ‘prasangka’ yang buruk. Justru masalah yang awalnya kecil dan sepele bisa saja berubah menjadi satu masalah besar.
Ya, social media bagaimana pun punya kekuatan itu, menguatkan dan menjatuhkan dalam waktu bersamaan.
Contoh kecil seperti yang sudah saya sebutkan tadi, memperlihatkan bahwa ternyata ‘memberi kabar’, baik atau buruk, akan mendatangkan efek dan dampak yang sangat besar.
Apa yang mungkin terjadi apabila seorang istri mengungkapkan kejelekan-kejelekan suaminya di depan keluarganya, di depan teman-temannya, di depan orang-orang yang tidak sepenuhnya tahu tentang kualitas kepribadian sang suami? Apakah istri itu akan mendapatkan simpati? Apakah istri itu akan mendapatkan bantuan?
Lalu bagaimana ‘prasangka’ yang terbangun di masing-masing orang yang mendengarnya? Apakah prasangka yang baik? Atau justru yang sebaliknya?
Istri : Saya tidak suka dengan sikap suami saya yang selalu pulang malam dan tidak pernah memberi saya kabar. (Mengabarkan sesuatu yang bias)
P 1 : Mungkin suami Mbak memang sedang lembur dan tidak sempat memberi kabar. (Prasangka baik)
p 2 : Ah, suami Mbak mungkin sedang membohongi Mbak. Bisa saja dia pulang malam karena selingkuh dan bertemu dengan wanita yang baru. (Prasangka buruk)
p 3 : Mbak jangan mau dibohongi dan dibuat gundah seperti ini. Ceraikan saja laki-laki seperti suami mbak itu. (Prasangka buruk)
Dari sekian prasangka yang mungkin muncul, kadang justru prasangka buruk yang justru lebih banyak kita terima. Lalu apa yang terjadi dengan ketetapan hati kita jika prasangka-prasangka yang buruk yang justru terus-menerus menjadi fokus dari pikiran kita? Meragu dan curiga bisa saja menjadi dampak dari prasangka buruk itu.
Sudah mulai bisa melihat perbedaan antara ‘memberi kabar baik’ dengan ‘memberi kabar buruk’?
Dan lalu apa hubungannya ‘memberi kabar’ dan ‘doa’? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya. Kabar baik dan buruk berpotensi menciptakan prasangka-prasangka di benak masing-masing orang yang mendengarkan, melihat atau memerhatikan kabar itu. Dan apabila prasangka yang muncul itu adalah prasangka yang baik, tanpa kita sadari, pada saat bersamaan, kita juga sedang mengamini (berdoa) prasangka yang kita pikirkan. Begitu juga yang terjadi ketika prasangka yang muncul itu adalah prasangka yang buruk, tanpa kita sadari, kita mendorong prasangka itu berubah menjadi ‘doa’ yang buruk.
Jadi, mana yang akan kamu pilih sekarang?
Ingatlah, setiap laku dan ucapmu menjadi sangat penting dalam menentukan apa saja yang mungkin terjadi dalam hidupmu. Lakukan hal yang baik, pikirkan sesuatu yang baik, dan biarkan semesta mengamini setiap doa baik itu hingga ia mewujud menjadi nyata dalam kehidupan kita.

positive thingking
!
saya juga sering menemukannya di facebook mas…
banyak banget yang mengumbar hal2 yang sepatutnya tidak pantas untuk dipublikasikan,,,bahkan ada gitu suami istri sayang2n sekaligus brntem di dinding facebook ckckckc
Jelas! Memang harus seperti itu, Izzawa.
Jangan sampai kita malah menyuburkan prasangka itu, hingga akhirnya berbuah curiga yang berlebihan dari orang-orang di sekitar kita.
Kadangkala kalau pertengkaraan dan kecurigaan itu berubah jadi santapan publik, rasanya semakin gak nyaman ya.
power of mind.
tentang mind bisa dibaca di sini juga:http://jarimanisindonesia.wordpress.com/
#angguk2. emang mesti hati2 kalau update status gitu ya?
saya sendiri sih sekarang berusaha berhati2 dalam menuliskan sesuatu di socmed, takutnya ntar terjadi hal yg ga diinginkan dari statur tsb..
Memang alangkah baiknya kita berusaha untuk berhati-hati dalam berucap dan melakukan sesuatu. Karena kadang orang lain bisa salah mengartikan dan memahami apa yang kita coba maksudkan melalui perkataan dan perbuatan itu.
Semoga kita dijadikan orang yang terjaga dari hal-hal berupa kesalahpahaman seperti itu Bang.
harus jaga kata ya kak
Dan juga perbuatan.
bener Mas, kata adalah doa….
Sebaik-baiknya doa tentu doa yang membawa kebaikan di dalamnya. Terima kasih Mas.
waktu awal menggunakan social media saya juga gak nyangka bakal ‘merasa nyaman’ untuk mengutarakan semua hal2 yang beraura negatif dari pikiran saya. tapi akhirnya saya sadar bahwa itu justru akan mengundang feedback yang sama dengan yang kita keluarkan. jadi memang harus menjaga hati. lebih baik menahan sejumlah hal karena kalau diumbar, walau sedikit, bisa jadi mubazir dan nggak memberi manfaat baik. thnx atas inspirasi dan pencerahannya mas teguh.
Yang menjadi perhatian utama sebenarnya lebih di bagian cara orang-orang sekitar kita menyikapi apa pun yang kita utarakan. Pada kenyataannya tidak semua orang bisa berlaku bijak dengan apa pun yang kita lakukan.
Tidak sedikit orang yang “tidak tahu apa-apa” seringkali memberikan judgement atau penilaian yang tak henti-hentinya kepada kita berdasar sebatas potongan-potongan kecil yang mereka baca dari socmed. Sangat mengganggu bukan jika seperti itu?
Senang juga Ilham mau berbagi melalui komentar.
boleh bertanya? apa arti ‘bersemuka’ ?
Dalam KBBI, bersemuka itu artinya berhadapan atau bertemu muka.