Menjadi Abadi: Menulis!

by Teguh Puja

Hai Ilham.

Apa kabarmu sekarang?  Beberapa hari yang lalu kita sempat berbincang banyak mengenai menulis. Lalu, sudah seperti apakah sekarang? Masihkah kamu tetap menulis dan berbagi seperti selayaknya biasa? Lalu bagaimana sekarang kamu memandang semua yang sudah kamu tuliskan? Apa yang membuatmu tetap menulis? Apa yang membuatmu masih saja mengungkap semua dalam cerita? Apa rahasiamu?

Kali ini, setelah kita menyempatkan menulis bersama kemarin, aku ingin sedikit berbagi sedikit saja mengenai apa yang membuatku selama ini ada di sini, menulis dan berbagi.

Ilham, aku ingin mengajakmu untuk tetap bertahan dengan menulis. Kenapa? Karena dengan menulis, kita bisa menjadi abadi. Dan juga karena menulis, sungguh sangat menyenangkan. Menulis adalah sebentuk kemewahan, karena dari titik ini, kita tahu dan juga menyadari bahwa semua orang memiliki tempat dan ruang pribadinya sendiri, karena dengan menulis juga kita akhirnya mengeksplorasi semua yang kita sudah ketahui dan belum kita ketahui, bagaimana pun ketika kita menulis kita akan dituntut untuk mengetahui lebih, mengerti lebih, dan juga mendalami lebih materi yang akan kita tulis. Menulis adalah sebentuk kemewahan, karena kita diberikan olehnya, satu ruang untuk berbagi, berbagi untuk diri sendiri dan juga dengan orang lain.

Aku tidak tahu apakah aku bisa memberikan kamu masukan atau tips agar kamu bisa menulis dengan bagus. Aku rasa aku belum mempunyai kapasitas untuk memberikan itu. Aku juga belum bisa dikatakan sebagai penulis yang baik, yang benar mungkin adalah aku memang sudah menulis terlebih dahulu, dan juga mungkin lebih lama, dari yang kamu akan lakukan sekarang.

Tapi, meskipun begitu. Ilham, ada beberapa masukan yang ingin aku bagi untuk kamu.

Yang pertama, Don’t think about people’s opinion!

Seringkali banyak dari kita akhirnya tidak lagi mau menulis, karena kita malu dan merasa down dikatakan atau dikomentari jelek oleh orang lain yang tidak suka dengan tulisan kita.

Ilham, jangan sampai kamu juga akhirnya merasa seperti itu.

Menulis sedari awal harusnya tidak kita jadikan sebagai ajang kita untuk mendapatkan pujian. Motivasi kita menulis seharusnya juga bukan diniatkan untuk pamer dan juga karena ingin dikatakan sebagai seorang yang A, B, atau C. Jangan sampai hanya karena kita ingin dikatakan sebagai seorang yang puitis, kita akhirnya memaksakan diri untuk menulis dan menggunakan kata-kata yang kita tidak sepenuhnya tahu dengan serampangan.

Menulis, layaknya kegiatan-kegiatan lainnya, harus benar-benar dimulai dengan niatan dan motivasi yang baik. Menulislah untuk diri kita sendiri terlebih dahulu. Menulislah untuk kebaikan diri kita sendiri, jadikan tulisan yang kita buat sebagai salah satu pemicu kita untuk terus berbagi kebaikan, berbagi pengetahuan dari ilmu dan wawasan yang kita punya. Ketika kita tahu lebih banyak tentang satu hal, dan orang lain ternyata belum mengetahuinya, tuliskan apa yang kita tahu itu, dan bagikan sebagai bentuk kecintaan untuk berbagi.

Yang kedua, Don’t always look outside and wait for other comment.

Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri kita sendiri. Jika kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri kita, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif? Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita?

Mengubah diri hanya bisa dilakukan jika kita mau mengubah pikiran-pikiran kita terlebih dulu. Kita tak mungkin menjadi lebih baik apabila kita hanya berpikiran ‘Tulisanku akan lebih baik kalau aku bisa mendapatkan komentar lebih banyak dari orang lain, tulisanku akan lebih baik kalau aku berada di tempat A, di kondisi B, dan sedang dalam perasaan yang C.’

Jadi, mengubah pikiran kita itu penting. Ini bukan berarti dengan mengubah cara pandang kita, lantas kita dapat berbuat banyak. Hanya, tak akan ada perubahan atau perbaikan tekad yang kita buat tanpa kita terlebih dulu mengubah pikiran-pikiran kita. Jika pikiran kita berbeda, akan berbeda pula perilaku dan perasaan kita, dan ujung-ujungnya akan berbeda juga hasil yang kita capai dalam tulisan-tulisan kita.

Barangkali tak akan terlalu sukar untuk kita untuk berintrospeksi, muhasabah, dan menemukan apa saja yang kita perlukan dan lakukan ke depan. Setelah muhasabah, mungkin kita akan menanggalkan pikiran dan tindakan buruk kita dan menggantinya dengan yang baik. Yang sukar adalah memulai agar yang ingin kita lakukan itu benar-benar kita kerjakan.

Kita tentu tahu menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara di depan publik akan mengurangi rasa grogi kita. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar selalu ingat untuk melakukannya? Bukankah kita sering terlanjur grogi dan lupa menghirup nafas dalam-dalam?

Itu karena kita tak terbiasa. Jadi, Ilham, mari ubah semua kebiasaan itu. Dan kita mulai untuk melakukan semuanya lebih baik.

Ilham, Socrates pernah berkata, “Cara terdekat untuk menuju kejayaan adalah berusaha untuk menjadi apa yang kamu inginkan dan kamu pikirkan”. Jika kamu merasa gagal pada saat awal, tenanglah, karena kesempatan untuk menjadi lebih baik selalu menemanimu, asalkan kamu yakin kalau kamu bisa melakukannya.

Ingat, kamu selalu mempunyai kesempatan.

Yang ketiga, use the things around you, the images from your dream, and the object that you remembered.

Ilham, mulailah menulis dari hal-hal yang sederhana, dari hal-hal yang sudah kamu tahu, dari hal-hal yang kamu senangi. Kamu mungkin pernah membaca tulisan-tulisan temanmu yang lain, tulisannya tidak membicarakan hal-hal yang berat, mereka cuma bercerita tentang kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari, tapi kamu tetap berdecak kagum dan memuji cara mereka bercerita. Ilham, diakui atau tidak olehmu, hal-hal kecil seperti itu bagaimana pun juga bisa menjadi sesuatu yang berbeda, ketika itu semua dimulai dengan kecintaan untuk berbagi dan dirangkum dengan motivasi yang baik di awal penulisannya.

Jangan dulu pikirkan apakah tulisan kamu penuh dengan kata-kata kiasan atau methapor, jangan dulu pikirkan apakah tulisan kamu itu cukup pantas untuk di-publish, jangan dulu pikirkan apakah tulisan kamu layak dikatakan baik atau tidak, jangan dulu pikirkan itu. Menulislah terlebih dahulu, menulis, menulis dan menulis.

Dari waktu ke waktu, kamu pun nanti akan menemukan ciri khas kamu sendiri. Kamu pun akan menemukan lagi hal-hal baru yang bisa lebih memotivasimu menulis. Kejutan-kejutan itu harus kamu temukan sendiri.

Ilham, kamu sekarang sedang ada di depan banyak kotak hadiah yang menunggu untuk dibuka, buka satu per satu hadiahmu itu, dan temukan kejutan-kejutan yang tersimpan di dalamnya.

Terakhir, sebagai penutup dari ajakan ini.

Ilham, life is all about how to control our minds, and how to make use of our limited knowledge.

Aku percaya, ketika aku berbagi, maka aku hidup. Dengan keterbatasan yang aku punya, aku ingin mencoba membuat pikiran aku tetap hidup, hidup di benak-benak orang lain. Tak pernah aku ingin terbuang dan terlupakan. Abu Al-Wafa pernah dulu berkata, ‘Haram bagiku menyia-nyiakan waktuku walau sekejap. Saat lisanku istirahat dari menelaah atau diskusi, serta mataku istirahat dari baca, aku tetap gunakan pikiranku saat aku terlentang istirahat. Sehingga, aku tidak berdiri, tetapi telah terlintas dalam benakku pemikiran yang layak dibukukan.”

Aku ingin sepertinya, aku ingin berbagi, berbagi apa pun, hingga harapannya adalah bahwa nanti itu semua membuat aku tetap ‘hidup’ di benak-benak orang-orang yang mengenal aku, setelah aku tiada.

Lalu, apa yang telah aku lakukan untuk hidup aku? Sama halnya denganmu. Mungkin aku belum melakukan apa pun untuk hidup aku. Aku tidak begitu tahu, apakah aku telah benar-benar hidup sesuai dengan apa yang aku mau. Namun, meskipun begitu. Aku tetap mencoba. Aku lakukan ini semua (kemewahan yang sedang kita lakukan saat ini) agar aku bisa menjadi ‘cukup berarti’ untuk hidup aku.

Untuk Ilham, aku hanya ingin menegaskan, “Satu kebenaran yang kita suarakan dengan tajam dan jernih, akan membawa seribu kebaikan. Satu kebaikan yang mencuat dari setiap tetes kalimat dalam karya-karya kita, akan membawa perubahan-perubahan yang kita sendiri barangkali akan terkejut.”

Terima kasih, karena telah mau membaca ajakanku. Terima kasih karena telah memulai sebuah kemewahan.

Salam persahabatan, Ilham. Mari menjadi abadi; dengan menulis.

About these ads